7 Penganiaya Purnawirawan Polisi Ditangkap

0
KAPOLDASU Irjen Pol Agus Andrianto menginterogasi tersangka penganiayaan purnawirawan polisi saat konferensi pers di Mapoldasu, Senin (17/6). Waspada/gito ap
KAPOLDASU Irjen Pol Agus Andrianto menginterogasi tersangka penganiayaan purnawirawan polisi saat konferensi pers di Mapoldasu, Senin (17/6). Waspada/gito ap

MEDAN (Waspada): Tujuh tersangka penganiaya purnawirawan polisi Bangkit Sembiring, 58, di Dusun Lau Kersik, Desa Bukti Lau Kersik, Kec. Gunung Sitember, Kab. Dairi ditangkap tim gabungan Dit Reskrimum Poldasu dan Sat Reskrim Polres Dairi.

“Para tersangka diamankan dari sejumlah lokasi, Jumat (31/5), masing-masing ST, W alias O, BH, JG, Y, BS dan Bon,” kata Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto di dampingi Direktur Dit Reskrim Kombes Andi Rian, Senin (17/6).

Petugas mengamankan sejumlah barang bukti, yakni tiga senjata tajam berupa parang yang digunakan W alias O, JG, Y dan Bon. Kemudian satu linggis digunakan BS, satu palu digunakan BH, lima sarung tangan warna putih dan satu mobil rental jenis Toyota Avanza warna hitam BK 1733 QB.

Kapolda mengatakan, penganiayaan dipicu sakit hati ST karena dilatarbelakangi sengketa tanah. “Tujuh yang diamankan, terdiri otak pelaku, eksekutor dan perekrut eksekutor,” sebutnya.

Motifnya dendam, dimana korban menguasai lahan 1,5 hektar, kemudian terjadi silang sengketa dengan pemilik lahan. Lalu permasalahan tersebut dikuasakan pemilik lahan kepada otak pelaku,” ujar Kapolda.

Silang sengketa kasus tanah itu kemudian berujung saling lapor ke Polres Dairi dan berbuntut kepada penganiayaan dan percobaan pembunuhan. Para tersangka, sebutnya, dibayar Rp50 juta oleh otak pelaku untuk menghabisi korban.

Direktur Reskrimum Poldasu Sumut Andi Rian menambahkan, kejadian sekira pukul 03:00. Para tersangka memantau pergerakan korban terlebih dahulu. “Penganiayaan direncanakan Maret 2019 dan dilaksanakan 31 Mei 2019,” ujarnya.

Andi Rian mengatakan, pada Maret 2019, tersangka W alias O bertemu ST (tersangka otak pelaku) di rumahnya Simpang Selayang, Medan membicarakan sakit hatinya terhadap korban. Kemudian menyuruh W alias O untuk membalaskan sakit hatinya, karena korban merusak rumah yang dibangun di lokasi Ladang Durian dan membacoki pekerja di ladang tersebut.

“Saat itu juga dibicarakan upah sebesar Rp50 juta. Satu minggu kemudian, W alias O berangkat ke Aceh Tamiang bertemu BH membicarakan permasalahannya. Keesokan harinya, mereka berangkat ke Medan menuju rumah JG di Sawit Seberang, Kab. Langkat,” sebut Andi Rian.

Dari rumah JG, W alias O, BH berikut JG berangkat ke Medan. Kemudian mereka merental mobil BK 1733 QB dan menjumpai ST, serta meminta uang jalan Rp5 juta untuk melacak alamat dan mengenali wajah korban di Tiga Lingga, Kab. Dairi.

Seminggu kemudian mereka berangkat ke Tiga Lingga, dan meminta uang jalan dari ST Rp3 juta. Pada Jumat (10/5), tersangka ST bersama W alias O membicarakan rencana itu di kedai belakang rumah ST di Jl. Sisingamangaraja, Dairi.

Kemudian 24 Mei 2019, BH, JG, Y, W alias O, BS dan Bon bertemu di Medan Selayang di rumah ST, yang bersengketa lahan dengan korban. Keesokan harinya, mereka diperlihatkan lokasi rumah korban. Para tersangka kemudian menentukan jalur untuk melarikan diri setelah beraksi.

Para tersangka dikatakan sengaja menginap di SPBU Tigalingga untuk mengambil uang Rp1 juta dari ST. Mereka kemudian membeli sejumlah senjata tajam untuk menghabisi korban. “Setelah semua terkoordinir, mereka pun melancarkan aksinya,” kata Andi Rian.

Saat kejadian, istri korban Ristani Samosir yang mencoba menghalangi dipukul menggunakan palu. Kemudian BH keluar dari rumah dan melihat W alias O sedang berada di samping mobil L-300 mengayunkan sebilah parang ke arah Bangkit Sembiring (korban). BH kemudian melakukan hal yang sama berulang-ulang.

“Setelah melakukan aksinya, para tersangka melarikan diri, dan akhirnya berhasil diringkus. Korbannya ada lima, Bangkit Sembiring, Ristani Samosir dan tiga anak mereka,” kata Andi Rian. (m27)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here