Top Stories

Pangkal Keleluasaan Jokowi
Di Balik Serangan Arab Saudi
Pustakawan Profesi Kebanggaan
Bangsa Yang Dilanda Krisis Persatuan
Hukuman Mati Untuk Kehidupan

Opini

Mungkinkah Aceh Mengulang Sejarah?

Penting untuk menjadi pertanyaan rakyat Aceh saat ini, apakah motif sebenarnya atas peristiwa di Ace...

Menyoal Transparansi Penilaian UN

Tindakan terpenting yang dapat dilakukan Kemdikbud dalam mengusung transparansi proses penilaian ada...

Pangkal Keleluasaan Jokowi

Keleluasaan melahirkan semua itu bukan tanpa batas, saat internal kekuasaan pun terpilah dan memihak...

Di Balik Serangan Arab Saudi

"Kami mendukung intervensi militer Arab Saudi di Yaman menyusul permintaan Presiden Hadi agar menduk...

Pustakawan Profesi Kebanggaan

Profesionalisme pustakawan mempunyai arti pelaksanaan kegiatan perpustakaan yang didasarkan pada kea...

Bangsa Yang Dilanda Krisis Persatuan

Mana sumber nilai yang menjadi rujukan generasi hari ini? Bila tidak terjawab, bukan tidak mungkin k...

Hukuman Mati Untuk Kehidupan

Orang lebih banyak bicara tentang hak asasi atau hak hidup pelaku pengedar Narkoba misalnya. Namun t...

Mimbar Jumat

Mungkinkah Aceh M...

Penting untuk menjadi pertanyaan ra...

Menyoal Transpara...

Tindakan terpenting yang dapat dila...

Pangkal Keleluasa...

Keleluasaan melahirkan semua itu bu...

Di Balik Serangan...

"Kami mendukung intervensi militer ...

Lentera

Mungkinkah Aceh M...

Penting untuk menjadi pertanyaan ra...

Menyoal Transpara...

Tindakan terpenting yang dapat dila...

Pangkal Keleluasa...

Keleluasaan melahirkan semua itu bu...

Di Balik Serangan...

"Kami mendukung intervensi militer ...

Lentera Ramadhan

Mungkinkah Aceh M...

Penting untuk menjadi pertanyaan ra...

Menyoal Transpara...

Tindakan terpenting yang dapat dila...

Pangkal Keleluasa...

Keleluasaan melahirkan semua itu bu...

Di Balik Serangan...

"Kami mendukung intervensi militer ...

Banner
Warisan Budaya, Kebudayaan dan Identitas Etnik
Articles | Opini
Share
Masalah warisan budaya (cultural heritage) belakangan ini semakin mendapat perhatian baik oleh pemerintah, akademisi, maupun kalangan organisasi nonpemerintah. Perhatian terhadap masalah warisan budaya juga dilakukan dunia internasional, seperti badan dunia PBB UNESCO dan beberapa NGO internasional seperti World Monuments Fund, ICOMOS, dan New7Wonder yang berkomitmen bagi penyelamatan terhadap warisan budaya (cultural heritage) dan warisan alam, (natural heritage).

Mengacu dari Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia tahun 2003 dinyatakan bahwa cultural heritage secara definisi diartikan sebagai hasil cipta, rasa, karsa dan karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di tanah air Indonesia, secara sendiri-sendiri sebagai kesatuan bangsa Indonesia dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya.

Ironisnya ancaman terhadap keberadaan warisan budaya semakin hari semakin mengkhawatirkan. Pembangunan dan modernisasi adalah salah satu penyebab terancamnya eksistensi warisan budaya. Paradigma pembangunan yang pro kapital dan berorientasi ekonomi telah menempatkan aspek budaya pada posisi yang marjinal. Bahkan atas nama pembangunan proses penghancuran warisan budaya fisik berlangsung secara sistematis, utamanya di kawasan perkotaan. Kasus penghancuran beberapa gedung warisan kolonial Belanda di Kota Medan merupakan salah satu fakta semakin terancamnya eksistensi warisan budaya.

Padahal secara peraturan keberadaan gedung-gedung bersejarah dijamin dan dilindungi UU No.5 tahun 1992 tentang perlindungan benda-benda cagar budaya. Banyak gedung bernilai sejarah di kota Medan yang akhirnya dimusnahkan dan digantikan gedung perkantoran, hotel dan pusat perbelanjaan mewah. Tentunya hal ini menimbulkan keprihatinan di tengah mulai bangkitnya kesadaran akan pentingnya warisan budaya. Namun tampaknya tidak diikuti kemauan politik dan komitmen dari pemerintah dan kalangan dunia usaha

Warisan Budaya dan Kebudayaan

Istilah warisan budaya, secara konseptual dapat ditelusuri dan diturunkan dari konsepsi tentang kebudayaan. Menurut Koentjaraningrat (1986), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Batasan konsep kebudayaan ini secara implisit mengungkap adanya 3 wujud kebudayaan yang tercakup di dalamnya, yakni: (1) konsep tentang nilai-nilai, ide atau gagasan atau budaya nonfisik (intangible); (2) konsep tentang tingkah laku; (3) konsep tentang hasil karya atau budaya fisik (tangible).

Dari defenisi kebudayaan yang diberikan oleh Koentjaraningrat , jelas bahwa konsep warisan budaya tercakup di dalamnya, yang meliputi budaya fisik (tangible) dalam wujud hasil karya dan budaya nonfisik (intangible) berupa nilai, ide dan gagasan. Keduanya merupakan bagian yang sangat penting dan tak terpisahkan dalam sebuah konsep kebudayaan. Dengan demikian warisan budaya sesungguhnya adalah bagian integral dari kebudayaan itu sendiri.

Warisan Budaya dan Identitas Etnik

Identitas etnik adalah sebuah ciri yang melekat pada suatu kelompok etnik tertentu yang membedakannya dari kelompok etnik lain. Dan tiap kelompok etnik mempunyai ciri budaya sendiri. Dalam hal ini kelompok etnik dapat dianggap sebagai unit-unit kebudayaan. Sebagai suatu unit kebudayaan, menurut Frederik Barth (1988), ada 2 hal pokok yang yang dapat dibahas dalam mengamati kehadiran kelompok etnik dengan ciri ciri unit budaya yang khusus , yakni : (1) kelanggengan unit-unit budaya ; (2) faktor faktor yang mempengaruhi terbentuknya budaya tersebut.

Kelompok etnik dapat juga dipandang sebagai suatu tatanan sosial. Sebagai tatanan sosial, kelompok-kelompok etnik terbentuk bila seseorang menggunakan identitas etnik dalam mengkategorikan dirinya dan orang lain untuk tujuan interaksi (Barth, 1988).

Warisan budaya yang terdapat di beberapa daerah yang ada di Sumatera Utara memiliki ciri yang berbeda satu sama lain; yang masing-masing memiliki dan didukung oleh kelompok etnik tertentu. Tercatat ada beberapa kelompok etnik yang terdapat wilayah Sumatera Utara, yakni : Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing, Pak Pak, Melayu, Nias, Jawa, Aceh, Minangkabau, Tamil, Cina, dan Arab. Kelompok-kelompok etnik ini hidup saling berbaur baik dalam satu kawasan yang sama maupun berbeda; dengan tetap memiliki ciri khasnya masing-masing.

Keberadaan warisan budaya di daerah tentunya sangat terkait erat dengan kelompok etnik yang mendukung kebudayaan tersebut. Dalam hal ini kelompok etnik memegang peranan penting dalam proses pembentukan warisan budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Kelompok etnik sekaligus merupakan wadah bagi terbentuknya warisan budaya.

Melirik potensi warisan budaya yang ada di Sumatera Utara maka perhatian kita akan terfokus pada potensi budaya yang ada pada masing-masing etnik yang ada di daerah ini. Paling tidak ada 13 etnik di daerah ini, yakni : Melayu, Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing, Pak Pak, Nias, , Aceh, Cina, Jawa, Minangkabau, Arab, Tamil/India.

Dengan keragaman etnik yang ada di daerah ini sekaligus menegaskan bahwa Sumatera Utara adalah salah satu potret daerah dengan banyak etnik (multicultural). Menariknya, kesemua etnik yang ada hidup berdampingan, saling menghormati dan menghargai satu sama lain serta menempati kawasan tertentu secara segregatif dan berbaur.

Penelusuran terhadap potensi warisan budaya yang ada di Sumatera Utara akan menghantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa ternyata cukup banyak warisan budaya yang terdapat di daerah ini baik fisik maupun non fisik. Semua warisan budaya yang ada membutuhkan perhatian yang sama untuk dijaga dan dilindungi serta diselamatkan dari ancaman kepunahan.; baik oleh karena bencana alam maupun bencana disebabkan oleh manusia.

Penutup

Warisan budaya sebagai bagian dari unit kebudayaan pada dasarnya mencerminkan identitas budaya suatu kelompok etnik tertentu. Karena warisan budaya biasanya dimiliki oleh salah satu kelompok etnik pendukung kebudayaan tersebut. Warisan budaya yang ada di Sumatera Utara merupakan cerminan dari kelompok etnik yang ada dan tersebar di Sumatera Utara. Semakin banyak jumlah kelompok etnik pendukung kebudayaan tertentu maka akan semakin banyak pula warisan budaya yang dimiliki.

Ancaman terhadap warisan budaya merupakan ancaman terhadap keberadaan suatu kelompok etnik tertentu. Oleh karenanya perlu melakukan upaya serius dan terus menerus agar warisan budaya tetap terjaga dengan baik dan utuh. Karena dengan menjaga dan melestarikan warisan budaya maka kita secara tidak langsung telah menjaga kelanggengan sebuah identitas kelompok etnik pendukung kebudayaan tersebut.

Revitalisasi warisan budaya baik yang bersifat fisik maupun nonfisik menjadi sebuah keharusan. Inilah sesungguhnya esensi dari relasi antara warisan budaya sebagai sebuah unit kebudayaan dan identitas etnik sebagai sebuah tatanan social ***** ( Edy Suhartono : Penulis adalah Aktifis LSM Dan Dosen Luar Biasa Antropologi Fisip USU )

 



Tags: Warisan Budaya  
 

Internasional

Stabilitas Dan Investasi S...

Stabilitas bukan untuk menyelesaikan masalah sesaat t...

Mungkinkah Aceh Mengulang ...

Penting untuk menjadi pertanyaan rakyat Aceh saat ini...

Menyoal Transparansi Penil...

Tindakan terpenting yang dapat dilakukan Kemdikbud da...

Pangkal Keleluasaan Jokowi...

Keleluasaan melahirkan semua itu bukan tanpa batas, s...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada