Top Stories

K13: Karakter Bukan Diajarkan?

Yang paling dikhawatirkan dalam pola pendidikan nasional, kita tak memiliki pedagogik yang khas ke-Indonesiaan. Namanya, saja sistem pendidikan nasional, tapi substansinya adalah made in luar negeri.HAR.Tilaar kerap menyebut pendidikan di Indonesia, “sudah mati.” Pada satu sisi, pedagogik di Indonesia merupakan produk pemikiran negara Barat yang tentunya kondisi sosial, kultural, dan geografisnya berbeda dengan Indonesia (walaupun tidak menafikan adanya nilai yang bersifat universal). Sedangkan pada sisi lainnya, pedagogik yang khas ke-Indonesiaan jarang disentuh dengan kajian ilmiah yang serius. Walhasil, kita lebih menyoroti hal yang tidak fundamental, bahkan menjiplak sana-sini, seraya tidak berupaya mengkaji hal fundamental ilmu pendidikan yang cocok untuk masyarakat dan bangsa Indonesia. Sebagai guru, saya dapat memaklumi “kepedulian, kepesimisan, bahkan kegusaran” pakar pendidikan sekaliber HAR Tilaar di atas. Sebut saja misalnya, soal Kurikulum 2013 (K13) yang sampai kini belum tuntas disosialisasikan kepada khalayak guru. Padahal, janjinya, Juli 2014 semua beres? Ambillah contoh masalah, tentang Kompetensi Inti (KI-1) dan KI-2 yang urutannya seolah menempatkan nomor penting, ternyata tidak, sekedar tertulis saja di RPP.

U-19 (Sok) Meniru Gaya Eropa
Semua Akan Berjalan Sesuai Rencana

Kalau semua berangkat dengan tujuan sama, untuk kemajuan bangsa dan negara, bukan untuk melampiaskan dendam, dan menunjukkan kehebatan sebagai penguasa, maka tak akan terjadi apa-apaEntah apa yang menjadi penyebabnya, banyak yang panik luar biasa, seolah bencana datang melanda. Banyak yang ketakutan terjadi gonjang ganjing politik yang akan memporak-porandakan kehidupan bernegara. Perseteruan dua kubu yang merupakan buntut pemilihan presiden yang lalu seakan menjadi ancaman bagi tatanan yang sudah ada. Entah kenapa terjadi seperti ini, apakah karena paranoid yang telah menghinggapi sebagian petinggi negeri, politisi, pemerhati, relawan dengan loyalitas tinggi, dan aktivis pro-demokrasi. Ataukah ada yang sengaja mengipasi sehingga muncul kecurigaan, sensasi agar ada lahan untuk sumber rezeki.  Mungkin juga ada yang memang sengaja membuat opini, bahwa keadaan sudah genting untuk tinggal menghitung hari akan datangnya tragedi. Mungkin juga politik adu domba yang digunakan sebagai strategi, agar pertikaian betul-betul terjadi.

Pesona Figur

Sebagaimana yang diperlihatkan generasi Soekarno dan Hatta--meskipun sikap politiknya berseberangan masih tetap membuka saling maaf.Dari masa lalu sampai sekarang orang-orang besar masih melambari perjalanan bangsa. Jauh sebelum republik berdiri ketika bangsa ini berada dalam rengkuhan kekuasaan kolonial hampir semua yang melakukan pembangkangan terhadap kehadiran kekuasaan asing adalah orang besar. Orang besar adalah mereka yang berasal dari kalangan status sosial tinggi, memiliki karisma, keistimewaan, pengaruh, dedikasi, pengetahuan, kecerdasan, pemikiran sembari beraktivitas dalam jagad politik. Mereka merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat sehingga mendapat simpati rakyat. Dengan latar sosio politik seperti inilah orang besar menjadi figur yang memesona dan harum dalam ingatan bangsa. Di masa lalu orang besar yang memiliki pesona figur adalah Teuku Umar, Dipanegoro, Sisingamangaraja, dan Imam Bonjol. Di masa hidupnya mereka bertarung memerdekakan teritorinya mengandalkan siasat, strategi dan taktik berperang. Berperang adalah jalan yang harus ditempuh melawan kekuasaan asing karena zamannya mengharuskan berperang melawan kekuasaan asing.

Mengkaji Kecuacaan Kabut Asap

Ada baiknya masyarakat dan pemerintah melakukan langkah mitigasi untuk mengurangi, memperkecil, bahkan meniadakan berbagai kerugian Masyarakat dua pulau besar Indonesia, Sumatera dan Kalimantan sedang hidup berkalang kabut asap. Adanya peningkatan status “darurat” menjadi “tanggap darurat kabut asap” pada 27 Februari 2014 di Provinsi Riau dan disusul Provinsi Kalimantan Tengah pada 23 September 2014 memberikan isyarat. Meningkatnya jumlah titik apimembuat warga Sumatera Selatan, Riau, Jambi dan sebagian besar Kalimantan tidak bisa menghirup segarnya udara. Tak hanya itu, negara tetangga Singapura dan Malaysia juga mengeluhkan dampak kabut asap kiriman dari Indonesia. Peristiwa kabut asap ini jelas merugikan dari berbagai segi, baik segi ekonomi maupun segi ekologi, hingga mempengaruhi aspek kecuacaan daerah tersebut.

Opini

Nasionalisme Bahasa Dan DPRD

Gubernur dan bupati/walikota memiliki kewajiban membangkitkan kembali nasionalisme terhadap bahasa. ...

Fatwa Pujangga Yang Tak Terbaca

Terkadang sebuah puisi atau syair dianggap tak bermakna oleh si pembaca karena ia tidak memahami seb...

K13: Karakter Bukan Diajarkan?

Yang paling dikhawatirkan dalam pola pendidikan nasional, kita tak memiliki pedagogik yang khas ke-I...

U-19 (Sok) Meniru Gaya Eropa

Korsel dan Jepang maju pesat dan menjadi langganan Piala Dunia dari tahun ke tahun karena mereka pun...

Semua Akan Berjalan Sesuai Rencana

Kalau semua berangkat dengan tujuan sama, untuk kemajuan bangsa dan negara, bukan untuk melampiaskan...

Pesona Figur

Sebagaimana yang diperlihatkan generasi Soekarno dan Hatta--meskipun sikap politiknya berseberangan ...

Mengkaji Kecuacaan Kabut Asap

Ada baiknya masyarakat dan pemerintah melakukan langkah mitigasi untuk mengurangi, memperkecil, bahk...

Mimbar Jumat

Nasionalisme Baha...

Gubernur dan bupati/walikota memili...

Fatwa Pujangga Ya...

Terkadang sebuah puisi atau syair d...

K13: Karakter Buk...

Yang paling dikhawatirkan dalam pol...

U-19 (Sok) Meniru...

Korsel dan Jepang maju pesat dan me...

Lentera

Nasionalisme Baha...

Gubernur dan bupati/walikota memili...

Fatwa Pujangga Ya...

Terkadang sebuah puisi atau syair d...

K13: Karakter Buk...

Yang paling dikhawatirkan dalam pol...

U-19 (Sok) Meniru...

Korsel dan Jepang maju pesat dan me...

Lentera Ramadhan

Nasionalisme Baha...

Gubernur dan bupati/walikota memili...

Fatwa Pujangga Ya...

Terkadang sebuah puisi atau syair d...

K13: Karakter Buk...

Yang paling dikhawatirkan dalam pol...

U-19 (Sok) Meniru...

Korsel dan Jepang maju pesat dan me...

Banner
Warisan Budaya, Kebudayaan dan Identitas Etnik
Articles | Opini
Share
Masalah warisan budaya (cultural heritage) belakangan ini semakin mendapat perhatian baik oleh pemerintah, akademisi, maupun kalangan organisasi nonpemerintah. Perhatian terhadap masalah warisan budaya juga dilakukan dunia internasional, seperti badan dunia PBB UNESCO dan beberapa NGO internasional seperti World Monuments Fund, ICOMOS, dan New7Wonder yang berkomitmen bagi penyelamatan terhadap warisan budaya (cultural heritage) dan warisan alam, (natural heritage).

Mengacu dari Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia tahun 2003 dinyatakan bahwa cultural heritage secara definisi diartikan sebagai hasil cipta, rasa, karsa dan karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di tanah air Indonesia, secara sendiri-sendiri sebagai kesatuan bangsa Indonesia dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya.

Ironisnya ancaman terhadap keberadaan warisan budaya semakin hari semakin mengkhawatirkan. Pembangunan dan modernisasi adalah salah satu penyebab terancamnya eksistensi warisan budaya. Paradigma pembangunan yang pro kapital dan berorientasi ekonomi telah menempatkan aspek budaya pada posisi yang marjinal. Bahkan atas nama pembangunan proses penghancuran warisan budaya fisik berlangsung secara sistematis, utamanya di kawasan perkotaan. Kasus penghancuran beberapa gedung warisan kolonial Belanda di Kota Medan merupakan salah satu fakta semakin terancamnya eksistensi warisan budaya.

Padahal secara peraturan keberadaan gedung-gedung bersejarah dijamin dan dilindungi UU No.5 tahun 1992 tentang perlindungan benda-benda cagar budaya. Banyak gedung bernilai sejarah di kota Medan yang akhirnya dimusnahkan dan digantikan gedung perkantoran, hotel dan pusat perbelanjaan mewah. Tentunya hal ini menimbulkan keprihatinan di tengah mulai bangkitnya kesadaran akan pentingnya warisan budaya. Namun tampaknya tidak diikuti kemauan politik dan komitmen dari pemerintah dan kalangan dunia usaha

Warisan Budaya dan Kebudayaan

Istilah warisan budaya, secara konseptual dapat ditelusuri dan diturunkan dari konsepsi tentang kebudayaan. Menurut Koentjaraningrat (1986), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Batasan konsep kebudayaan ini secara implisit mengungkap adanya 3 wujud kebudayaan yang tercakup di dalamnya, yakni: (1) konsep tentang nilai-nilai, ide atau gagasan atau budaya nonfisik (intangible); (2) konsep tentang tingkah laku; (3) konsep tentang hasil karya atau budaya fisik (tangible).

Dari defenisi kebudayaan yang diberikan oleh Koentjaraningrat , jelas bahwa konsep warisan budaya tercakup di dalamnya, yang meliputi budaya fisik (tangible) dalam wujud hasil karya dan budaya nonfisik (intangible) berupa nilai, ide dan gagasan. Keduanya merupakan bagian yang sangat penting dan tak terpisahkan dalam sebuah konsep kebudayaan. Dengan demikian warisan budaya sesungguhnya adalah bagian integral dari kebudayaan itu sendiri.

Warisan Budaya dan Identitas Etnik

Identitas etnik adalah sebuah ciri yang melekat pada suatu kelompok etnik tertentu yang membedakannya dari kelompok etnik lain. Dan tiap kelompok etnik mempunyai ciri budaya sendiri. Dalam hal ini kelompok etnik dapat dianggap sebagai unit-unit kebudayaan. Sebagai suatu unit kebudayaan, menurut Frederik Barth (1988), ada 2 hal pokok yang yang dapat dibahas dalam mengamati kehadiran kelompok etnik dengan ciri ciri unit budaya yang khusus , yakni : (1) kelanggengan unit-unit budaya ; (2) faktor faktor yang mempengaruhi terbentuknya budaya tersebut.

Kelompok etnik dapat juga dipandang sebagai suatu tatanan sosial. Sebagai tatanan sosial, kelompok-kelompok etnik terbentuk bila seseorang menggunakan identitas etnik dalam mengkategorikan dirinya dan orang lain untuk tujuan interaksi (Barth, 1988).

Warisan budaya yang terdapat di beberapa daerah yang ada di Sumatera Utara memiliki ciri yang berbeda satu sama lain; yang masing-masing memiliki dan didukung oleh kelompok etnik tertentu. Tercatat ada beberapa kelompok etnik yang terdapat wilayah Sumatera Utara, yakni : Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing, Pak Pak, Melayu, Nias, Jawa, Aceh, Minangkabau, Tamil, Cina, dan Arab. Kelompok-kelompok etnik ini hidup saling berbaur baik dalam satu kawasan yang sama maupun berbeda; dengan tetap memiliki ciri khasnya masing-masing.

Keberadaan warisan budaya di daerah tentunya sangat terkait erat dengan kelompok etnik yang mendukung kebudayaan tersebut. Dalam hal ini kelompok etnik memegang peranan penting dalam proses pembentukan warisan budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Kelompok etnik sekaligus merupakan wadah bagi terbentuknya warisan budaya.

Melirik potensi warisan budaya yang ada di Sumatera Utara maka perhatian kita akan terfokus pada potensi budaya yang ada pada masing-masing etnik yang ada di daerah ini. Paling tidak ada 13 etnik di daerah ini, yakni : Melayu, Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing, Pak Pak, Nias, , Aceh, Cina, Jawa, Minangkabau, Arab, Tamil/India.

Dengan keragaman etnik yang ada di daerah ini sekaligus menegaskan bahwa Sumatera Utara adalah salah satu potret daerah dengan banyak etnik (multicultural). Menariknya, kesemua etnik yang ada hidup berdampingan, saling menghormati dan menghargai satu sama lain serta menempati kawasan tertentu secara segregatif dan berbaur.

Penelusuran terhadap potensi warisan budaya yang ada di Sumatera Utara akan menghantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa ternyata cukup banyak warisan budaya yang terdapat di daerah ini baik fisik maupun non fisik. Semua warisan budaya yang ada membutuhkan perhatian yang sama untuk dijaga dan dilindungi serta diselamatkan dari ancaman kepunahan.; baik oleh karena bencana alam maupun bencana disebabkan oleh manusia.

Penutup

Warisan budaya sebagai bagian dari unit kebudayaan pada dasarnya mencerminkan identitas budaya suatu kelompok etnik tertentu. Karena warisan budaya biasanya dimiliki oleh salah satu kelompok etnik pendukung kebudayaan tersebut. Warisan budaya yang ada di Sumatera Utara merupakan cerminan dari kelompok etnik yang ada dan tersebar di Sumatera Utara. Semakin banyak jumlah kelompok etnik pendukung kebudayaan tertentu maka akan semakin banyak pula warisan budaya yang dimiliki.

Ancaman terhadap warisan budaya merupakan ancaman terhadap keberadaan suatu kelompok etnik tertentu. Oleh karenanya perlu melakukan upaya serius dan terus menerus agar warisan budaya tetap terjaga dengan baik dan utuh. Karena dengan menjaga dan melestarikan warisan budaya maka kita secara tidak langsung telah menjaga kelanggengan sebuah identitas kelompok etnik pendukung kebudayaan tersebut.

Revitalisasi warisan budaya baik yang bersifat fisik maupun nonfisik menjadi sebuah keharusan. Inilah sesungguhnya esensi dari relasi antara warisan budaya sebagai sebuah unit kebudayaan dan identitas etnik sebagai sebuah tatanan social ***** ( Edy Suhartono : Penulis adalah Aktifis LSM Dan Dosen Luar Biasa Antropologi Fisip USU )

 



Tags: Warisan Budaya  
 

Internasional

Guru: Sejahtera Dan Bermar...

Menggeneralisir guru berada pada keadaan aman pendapa...

Nasionalisme Bahasa Dan DP...

Gubernur dan bupati/walikota memiliki kewajiban memba...

Fatwa Pujangga Yang Tak Te...

Terkadang sebuah puisi atau syair dianggap tak bermak...

K13: Karakter Bukan Diajar...

Yang paling dikhawatirkan dalam pola pendidikan nasio...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada