Top Stories

Membangun Daerah

Pengembangan suatu daerah, tidak terlepas dari visi dan misi dari daerah tersebut yang dikomandoi oleh kepala daerahLabuhanbatu Selatan terbentang 311.600 ha, sebagian besar luas wilayah tersebut berfungsi sebagai lahan pertanian produktif.  Bayangkan, 41.972 ha (13 persen) di antaranya adalah tanaman sawit. Bila satu ha lahan dapat ditanami 135-140 pohon, maka akan ada sekira 5,7 juta pohon sawit. Padahal, setiap batang pohon sawit tidak ada yang terbuang bila dapat direkayasa menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi seperti, pohon yang tidak lagi produktif setelah 25 tahun. Selama ini pohon yang ditebang untuk digantikan pohon yang baru (replanting), tidak banyak diupayakan menjadi produk yang bernilai ekonomis. Kebanyakan hanya dibiarkan membusuk menjadi humus. Salahsatu penyebabnya adalah pengangkutan yang sulit dari lahan ke tempat pemrosesan.

Percaya Diri Rendah Hati
Partisipasi Politik

Adalah juga sebuah bencana bahwa untuk tujuan membungkam perlawanan terhadap pemerintah dikembangkan pola-pola lama berupa kebijakan bipolar and segmentary process (politik belah bambu)Partisipasi politik adalah sebuah tema kajian yang cukup rumit. Mengapa? Dari pengertian yang diberikan Samuel P Huntington dan Joan Nelson (Partisipasi Politik di Negara Berkembang, 1990),  partisipasi politik itu kurang lebih adalah aktivitas warganegara yang bertujuan memengaruhi pengambilan keputusan politik. Jika partisipasi politik itu misalnya berwujud aksi atau bentuk-bentuk yang lain, maka itu harus dilakukan orang dalam posisinya sebagai warganegara, bukan sebagai politikus ataupun pegawai negeri. Sifatnya juga harus sukarela, bukan dimobilisasi oleh negara ataupun partai (yang berkuasa maupun yang di luar orbit kekuasaan).

Medan Kota Tidak Bertuan

Kalau gedung (Nasional) itu kita lenyapkan, maka kita telah melenyapkan “invironmental-habitat” kelahiran suatu masyarakat yang pro-republik dan kemerdekaan RI Menurut Sejarawan Dr.Ichwan Azhari di ladang penggalian Kota Tua Buluh China (Hamparanperak), kota itu telah berdiri sebagai Bandar Pelabuhan Nusantara pada abad ke 12, sekitar delapan ratus tahun  lalu. Belum banyak cerita yang dapat dikembangkan dari penggalian keramik yang giat dilakukan sekarang. Namun yang jelas, daerah Medan sekarang yang mencakup Labuhan dan Belawan Deli merupakan daerah tol laut (maritim) dari Situs Budaya Hoa Bin Hian yang terpenting pada permulaan abad sepuluh lalu. Bagaimana bentuk morpologi kota Medan waktu itu belum ada yang berani mereka-reka. Bayangkan kalau sungai Deli yang berada di belakang kantor Waspada sekarang, dimana terbentang jalan Syahbandar, bukan tidak mungkin di ujung jalan itu adalah bekas Bandar Pelabuhan yang merupakan tol laut nusantara tadi.

Menyigi Seleksi Hakim MK

Opini

Revolusi Moral Selamatkan Satwa Liar

Ada situasi yang darurat terhadap nasib dan keberlangsungan kehidupan satwa liar di Indonesia saat i...

Hak Asasi Manusia Dan Beragama

...para pegiat HAM hendaknya memeriksa kembali keselarasan konsep dasar HAM dengan opini yang terlan...

Membangun Daerah

Pengembangan suatu daerah, tidak terlepas dari visi dan misi dari daerah tersebut yang dikomandoi ol...

Percaya Diri Rendah Hati

Rasa percaya diri yang luar biasa bisa meninggalkan kelompok kerja yang selama ini hidup bersama. Ba...

Partisipasi Politik

Adalah juga sebuah bencana bahwa untuk tujuan membungkam perlawanan terhadap pemerintah dikembangkan...

Medan Kota Tidak Bertuan

Kalau gedung (Nasional) itu kita lenyapkan, maka kita telah melenyapkan “invironmental-habitat” kela...

Menyigi Seleksi Hakim MK

Besarnya amanah yang akan dipikul Hakim Konstitusi seperti dalam pemakzulan presiden, tentunya menja...

Mimbar Jumat

Revolusi Moral Se...

Ada situasi yang darurat terhadap n...

Hak Asasi Manusia...

...para pegiat HAM hendaknya memeri...

Membangun Daerah...

Pengembangan suatu daerah, tidak te...

Percaya Diri Rend...

Rasa percaya diri yang luar biasa b...

Lentera

Revolusi Moral Se...

Ada situasi yang darurat terhadap n...

Hak Asasi Manusia...

...para pegiat HAM hendaknya memeri...

Membangun Daerah...

Pengembangan suatu daerah, tidak te...

Percaya Diri Rend...

Rasa percaya diri yang luar biasa b...

Lentera Ramadhan

Revolusi Moral Se...

Ada situasi yang darurat terhadap n...

Hak Asasi Manusia...

...para pegiat HAM hendaknya memeri...

Membangun Daerah...

Pengembangan suatu daerah, tidak te...

Percaya Diri Rend...

Rasa percaya diri yang luar biasa b...

Banner
Warisan Budaya, Kebudayaan dan Identitas Etnik
Articles | Opini
Share
Masalah warisan budaya (cultural heritage) belakangan ini semakin mendapat perhatian baik oleh pemerintah, akademisi, maupun kalangan organisasi nonpemerintah. Perhatian terhadap masalah warisan budaya juga dilakukan dunia internasional, seperti badan dunia PBB UNESCO dan beberapa NGO internasional seperti World Monuments Fund, ICOMOS, dan New7Wonder yang berkomitmen bagi penyelamatan terhadap warisan budaya (cultural heritage) dan warisan alam, (natural heritage).

Mengacu dari Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia tahun 2003 dinyatakan bahwa cultural heritage secara definisi diartikan sebagai hasil cipta, rasa, karsa dan karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di tanah air Indonesia, secara sendiri-sendiri sebagai kesatuan bangsa Indonesia dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya.

Ironisnya ancaman terhadap keberadaan warisan budaya semakin hari semakin mengkhawatirkan. Pembangunan dan modernisasi adalah salah satu penyebab terancamnya eksistensi warisan budaya. Paradigma pembangunan yang pro kapital dan berorientasi ekonomi telah menempatkan aspek budaya pada posisi yang marjinal. Bahkan atas nama pembangunan proses penghancuran warisan budaya fisik berlangsung secara sistematis, utamanya di kawasan perkotaan. Kasus penghancuran beberapa gedung warisan kolonial Belanda di Kota Medan merupakan salah satu fakta semakin terancamnya eksistensi warisan budaya.

Padahal secara peraturan keberadaan gedung-gedung bersejarah dijamin dan dilindungi UU No.5 tahun 1992 tentang perlindungan benda-benda cagar budaya. Banyak gedung bernilai sejarah di kota Medan yang akhirnya dimusnahkan dan digantikan gedung perkantoran, hotel dan pusat perbelanjaan mewah. Tentunya hal ini menimbulkan keprihatinan di tengah mulai bangkitnya kesadaran akan pentingnya warisan budaya. Namun tampaknya tidak diikuti kemauan politik dan komitmen dari pemerintah dan kalangan dunia usaha

Warisan Budaya dan Kebudayaan

Istilah warisan budaya, secara konseptual dapat ditelusuri dan diturunkan dari konsepsi tentang kebudayaan. Menurut Koentjaraningrat (1986), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Batasan konsep kebudayaan ini secara implisit mengungkap adanya 3 wujud kebudayaan yang tercakup di dalamnya, yakni: (1) konsep tentang nilai-nilai, ide atau gagasan atau budaya nonfisik (intangible); (2) konsep tentang tingkah laku; (3) konsep tentang hasil karya atau budaya fisik (tangible).

Dari defenisi kebudayaan yang diberikan oleh Koentjaraningrat , jelas bahwa konsep warisan budaya tercakup di dalamnya, yang meliputi budaya fisik (tangible) dalam wujud hasil karya dan budaya nonfisik (intangible) berupa nilai, ide dan gagasan. Keduanya merupakan bagian yang sangat penting dan tak terpisahkan dalam sebuah konsep kebudayaan. Dengan demikian warisan budaya sesungguhnya adalah bagian integral dari kebudayaan itu sendiri.

Warisan Budaya dan Identitas Etnik

Identitas etnik adalah sebuah ciri yang melekat pada suatu kelompok etnik tertentu yang membedakannya dari kelompok etnik lain. Dan tiap kelompok etnik mempunyai ciri budaya sendiri. Dalam hal ini kelompok etnik dapat dianggap sebagai unit-unit kebudayaan. Sebagai suatu unit kebudayaan, menurut Frederik Barth (1988), ada 2 hal pokok yang yang dapat dibahas dalam mengamati kehadiran kelompok etnik dengan ciri ciri unit budaya yang khusus , yakni : (1) kelanggengan unit-unit budaya ; (2) faktor faktor yang mempengaruhi terbentuknya budaya tersebut.

Kelompok etnik dapat juga dipandang sebagai suatu tatanan sosial. Sebagai tatanan sosial, kelompok-kelompok etnik terbentuk bila seseorang menggunakan identitas etnik dalam mengkategorikan dirinya dan orang lain untuk tujuan interaksi (Barth, 1988).

Warisan budaya yang terdapat di beberapa daerah yang ada di Sumatera Utara memiliki ciri yang berbeda satu sama lain; yang masing-masing memiliki dan didukung oleh kelompok etnik tertentu. Tercatat ada beberapa kelompok etnik yang terdapat wilayah Sumatera Utara, yakni : Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing, Pak Pak, Melayu, Nias, Jawa, Aceh, Minangkabau, Tamil, Cina, dan Arab. Kelompok-kelompok etnik ini hidup saling berbaur baik dalam satu kawasan yang sama maupun berbeda; dengan tetap memiliki ciri khasnya masing-masing.

Keberadaan warisan budaya di daerah tentunya sangat terkait erat dengan kelompok etnik yang mendukung kebudayaan tersebut. Dalam hal ini kelompok etnik memegang peranan penting dalam proses pembentukan warisan budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Kelompok etnik sekaligus merupakan wadah bagi terbentuknya warisan budaya.

Melirik potensi warisan budaya yang ada di Sumatera Utara maka perhatian kita akan terfokus pada potensi budaya yang ada pada masing-masing etnik yang ada di daerah ini. Paling tidak ada 13 etnik di daerah ini, yakni : Melayu, Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing, Pak Pak, Nias, , Aceh, Cina, Jawa, Minangkabau, Arab, Tamil/India.

Dengan keragaman etnik yang ada di daerah ini sekaligus menegaskan bahwa Sumatera Utara adalah salah satu potret daerah dengan banyak etnik (multicultural). Menariknya, kesemua etnik yang ada hidup berdampingan, saling menghormati dan menghargai satu sama lain serta menempati kawasan tertentu secara segregatif dan berbaur.

Penelusuran terhadap potensi warisan budaya yang ada di Sumatera Utara akan menghantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa ternyata cukup banyak warisan budaya yang terdapat di daerah ini baik fisik maupun non fisik. Semua warisan budaya yang ada membutuhkan perhatian yang sama untuk dijaga dan dilindungi serta diselamatkan dari ancaman kepunahan.; baik oleh karena bencana alam maupun bencana disebabkan oleh manusia.

Penutup

Warisan budaya sebagai bagian dari unit kebudayaan pada dasarnya mencerminkan identitas budaya suatu kelompok etnik tertentu. Karena warisan budaya biasanya dimiliki oleh salah satu kelompok etnik pendukung kebudayaan tersebut. Warisan budaya yang ada di Sumatera Utara merupakan cerminan dari kelompok etnik yang ada dan tersebar di Sumatera Utara. Semakin banyak jumlah kelompok etnik pendukung kebudayaan tertentu maka akan semakin banyak pula warisan budaya yang dimiliki.

Ancaman terhadap warisan budaya merupakan ancaman terhadap keberadaan suatu kelompok etnik tertentu. Oleh karenanya perlu melakukan upaya serius dan terus menerus agar warisan budaya tetap terjaga dengan baik dan utuh. Karena dengan menjaga dan melestarikan warisan budaya maka kita secara tidak langsung telah menjaga kelanggengan sebuah identitas kelompok etnik pendukung kebudayaan tersebut.

Revitalisasi warisan budaya baik yang bersifat fisik maupun nonfisik menjadi sebuah keharusan. Inilah sesungguhnya esensi dari relasi antara warisan budaya sebagai sebuah unit kebudayaan dan identitas etnik sebagai sebuah tatanan social ***** ( Edy Suhartono : Penulis adalah Aktifis LSM Dan Dosen Luar Biasa Antropologi Fisip USU )

 



Tags: Warisan Budaya  
 

Internasional

Islam Inklusif Dan Ekonom...

Sebagaimana di Indonesia, India juga memiliki konstel...

Revolusi Moral Selamatkan ...

Ada situasi yang darurat terhadap nasib dan keberlang...

Hak Asasi Manusia Dan Bera...

...para pegiat HAM hendaknya memeriksa kembali kesela...

Membangun Daerah...

Pengembangan suatu daerah, tidak terlepas dari visi d...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada