Top Stories

Syiar Takbir Selama Hari Tasyrik
Qurban Ibadah Tertua
Substansi Qurban Dalam Alquran
Bulan Zulhijjah Dan Keutamaannya
Filosofi Melontar Jumrah

Opini

Serba-Serbi Prilaku Unik Jamaah Haji

Minimnya perbekalan ilmu manasik haji diduga kuat akan terjadinya kesalahan kesalahan dalam pela...

Menegakkan Tauhid

Sebelum kita munculkan keberanian menyembelih Dan menyaksikan cipratan darah domba itu, maka ber...

Syiar Takbir Selama Hari Tasyrik

Dari sejumlah hari yang dianjurkan untuk mengumandangkan takbir dan diikuti dengan penyembelihan...

Qurban Ibadah Tertua

yang harus dibunuh, disembelih dan dikorbankan itu bukanlah manusianya, tetapi adalah sifat-sifa...

Substansi Qurban Dalam Alquran

Sasaran dari manfaat kurban adalah manusia dan karenanya aspek-aspek kemanusiaan perlu diperhat...

Bulan Zulhijjah Dan Keutamaannya

siapa yang berpuasa pada hari-hari pertama sampai Sembilan zulhijjah, maka Allah memuliakannya ...

Filosofi Melontar Jumrah

Mabit untuk istirahat di Muzdalifah itu bagai pasukan tentara yang sedang menyiapkan tenaga, dan...

Mimbar Jumat

Serba-Serbi Pril...

Minimnya perbekalan ilmu manasi...

Menegakkan Tauhid...

Sebelum kita munculkan keberani...

Syiar Takbir Sela...

Dari sejumlah hari yang dianjur...

Qurban Ibadah Ter...

yang harus dibunuh, disembelih ...

Lentera

Serba-Serbi Pril...

Minimnya perbekalan ilmu manasi...

Menegakkan Tauhid...

Sebelum kita munculkan keberani...

Syiar Takbir Sela...

Dari sejumlah hari yang dianjur...

Qurban Ibadah Ter...

yang harus dibunuh, disembelih ...

Lentera Ramadhan

Serba-Serbi Pril...

Minimnya perbekalan ilmu manasi...

Menegakkan Tauhid...

Sebelum kita munculkan keberani...

Syiar Takbir Sela...

Dari sejumlah hari yang dianjur...

Qurban Ibadah Ter...

yang harus dibunuh, disembelih ...

Banner
Peran MUI Membangun Karakter Bangsa
Articles | Mimbar Jumat
Share
Majelis Ulama Indonesia (MUI) berdiri pada 17 Rajab 1395 H, bertepatan dengan 26 Juli 1975 M. Majelis ini lahir bertujuan mengamalkan ajaran Islam untuk ikut mewujudkan masyarakat yang aman, damai, adil dan makmur rohaniah dan jasmaniah yang diridhai Allah Swt dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia.

MUI didirikan sebagai wadah yang menghimpun para ulama dan cendikiawan muslim Indonesia, yang direkrut dari berbagai ormas, di antaranya NU, Al-Washliyah, Muhammadiyah, Syarikat Islam, PERTI, Mathlail Anwar, GUPPI, Dewan Mesjid Indonesia, Al-Ittihadiyah, ulama dari dinas rohaniah Islam Angkatan Darat, Angkatan Laut, Polri dan dari perguruan tinggi.

Rekrutmean para pemimpin ormas dan unsur pimpinan lainnya di dalam tubuh MUI ini bertujuan untuk menyatukan gerak langkah umat Islam Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bersama baldatun thayyibatun warabbun ghafur (negara aman, makmur, penuh keampunan Allah Swt).

Dari tinjauan historis, MUI berdiri dalam momentum ketika bangsa Indonesia berada pada fase kebangkitan kembali, setelah 30 tahun merdeka di mana energi anak bangsa ini telah banyak diserap dalam perjuangan politik kelompok, dan kurang peduli terhadap masalah kesejahteraan rohani umat.

Boleh dikatakan, ketika itu, keadaan Indonesia terpuruk dalam kehidupan era Orde Lama dan mencoba untuk bangkit dalam Orde Baru, di saat itu MUI memainkan peranannya untuk membangun akhlak dan moralitas bangsa.

Dari tinjauan sejarah latar belakang berdirinya MUI dan semangat berdirinya organisasi ini, MUI bukan ormas biasa atau ormas tempat ngumpul-ngumpul para ustaz dan diskusi-diskusi seperti perkumpulan wirid yasin, STM, dan arisan-arisan yang biasa digelar oleh masyarakat awam, akan tetapi MUI merupakan organisasi pemimpin yang ikut bertanggungjawab atas kerusakan moralitas anak bangsa ini.

Dari sudut pandang semangat berdirinya MUI, organisasi ini bukan hanya organisasi yang diperlukan pada acara seremonial penguasa, membacakan doa, mendampingi pejabat-pejabat, mendoakan pemimpin supaya tetap eksis, melakukan politik praktis, akan tetapi jauh lebih berat dari semua itu, MUI berperan melakukan tugas kenabian sebagai pewaris dari Nabi rahmatan lil ‘alamin.

Imam Bukhari meriwayatkan, Nabi Muhammad Saw bersabda: Ulama adalah ahli waris para Nabi. Oleh sebab itu, sesuai dengan tugas kenabian dalam mengembangkan dan mengaktualisasikan ajaran Alquran, ada empat tugas ulama yang harus dijalankan oleh MUI.

Pertama, menyampaikan ajaran Alquran sesuai dengan firman Allah Swt dalam surat al-Maidah ayat 67: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu) berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.

Tugas menyampaikan (tabligh) dalam ayat di atas tidak hanya memberi ceramah di masjid-masjid, kantor dan pada acara-acara yang diperlukan, akan tetapi MUI harus mampu menjadi penghubung antara rakyat dan pemerintah antara ulama dan umara itu sendiri, sehingga mampu menerjemahkan atau menjadi penerjemah timbal--balik antara umat dan pemerintah, demikian pula hubungan antara organisasi dengan organisasi lainnya. Pendeknya, MUI harus selalu melibatkan diri dan dilibatkan untuk menjadi penyejuk nurani umat.

Sebagai contoh kecil, umat dan penguasa di negeri ini sudah terbiasa sogok-menyogok untuk mendapatkan suatu jabatan atau pekerjaan, baik PNS maupun swasta, apa peranan MUI dalam menjalankan misi tablighnya? Apakah cukup dengan berfatwa bahwa suap-menyuap itu haram? Mengapa MUI tidak mampu merobah mentalitas umat dan pejabat yang sudah rusak ini? Sudahkan MUI mencoba membuat dan mengusulkan Perda-perda Syariat tentang sogok? Jika perlu MUI harus meminta kepada publik dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengaudit panitia penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di seluruh Indonesia.

Kedua, menjelaskan ayat-ayat Alquran, sebagaimana firman Allah Swt dalam surat an-Nahl ayat 44: Dan kami turunkan kepadamu Alquran agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.

Fungsi menjelaskan (tabyin) ini sangat strategis bagi MUI untuk membangun kembali moralitas bangsa yang semakin terpuruk. MUI dapat melakukan langkah-langkah yang tidak bertabrakan dengan hukum, antara lain bekerjasama dengan pemerintah, bagaimana MUI dapat ambil bagian dalam memberikan penerangan dan pencerahan kepada umat dengan cara melibatkan diri dalam dunia informasi, sehingga MUI ikut berperan dalam membentuk opini umat, misalnya MUI seharusnya berperan mengendalikan deras informasi, situs-situs porno yang mengalir ke alat teknologi informasi, sehingga umat merasakan keberadaan MUI dalam memerankan misi tabyinnya.

Ketiga, memutuskan perkara-perkara yang dihadapi masyarakat (tahkim) sesuai dengan firman Allah Swt dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 213: Dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.

Tugas ketiga ini tidak kalah pentingnya dalam upaya memperbaiki keruntuhan moral anak bangsa ini, karena tugas ketiga ini berkaitan dengan keputusan dan fatwa halal haramnya suatu makanan yang harus dikonsumsi. Empat sehat lima sempurna seperti yang telah dirumuskan oleh ahli gizi Indonesia, harus ditambah oleh MUI dengan poin keenam yaitu halal dan thayyib/baik, karena makanan dan minuman berperan penting dalam membentuk akhlak seseorang.

Bukan hanya itu, MUI harus berani memfatwakan bahwa pejabat/pemimpin/PNS/pekerjaan apa saja yang didapat dengan cara haram, baik money politic, suap, dan lain-lain, maka hasil yang diterima adalah haram dan amal ibadah tidak diterima Allah Swt.

Keempat, memberi contoh panutan (uswah) yang baik-baik di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana ketika Aisyah ditanya tentang budi pekerti Rasul Saw adalah akhlaknya Nabi Saw adalah Alquran. (HR. al-Bukhari)

Fungsi yang terakhir ini teramat penting, karena menyangkut kharismatik, wibawa seorang ulama, disegani tidak dijatuhkan marwahnya, dihormati tidak direndahkan, diperlukan fatwanya oleh penguasa bukan sebaliknya, dikunjungi bukan cari-cari muka dengan pemerintah.

Jika MUI kembali kepada tugas asalnya atau kembali ke habitanya, insya Allah moralitas bangsa ini akan kembali pulih dan negara ini akan menjadi kuat. Karena, suatu bangsa akan kuat jika akhlaknya baik, kata seorang penyair. Wallahua’lam bil ash-shawab ***** (H.M. Nasir, Lc., MA : ( Penulis adalah pimpinan Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara, Pembantu Rektor IV Universitas Al Washliyah Medan )



Tags: MUI  
 

Internasional

Hijrah Dan Revolusi Mental...

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscay...

Serba-Serbi Prilaku Unik ...

Minimnya perbekalan ilmu manasik haji diduga kuat...

Menegakkan Tauhid...

Sebelum kita munculkan keberanian menyembelih Dan...

Syiar Takbir Selama Hari T...

Dari sejumlah hari yang dianjurkan untuk menguman...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada