Opini

Jannatul 'Adnin

Salam dilimpahkan kepadamu Berbahagialah kamu, maka masuklah ke dalam surga ('Adnin) Sedangkan kamu...

Tanah Palestina

PALESTINA milik siapa? Milik Yahudikah atau milik Bangsa  Arab Palestina yang beragama Islam? Kitab...

Shalahuddin Al-Ayyubi

Rakyat Palestina merindukan pahlawan seperti Shalahuddin al-Ayyubi Membebaskan mereka dari musuh-mu...

Barakah Alhabsyi

Seorang budak yang berkulit hitam ditakdirkan Allah berada dalam keluarga mulia. Dia perempuan yang...

Abdul Muthalib

Dialah yang mendapat ilham dari Allah menamakan cucunya Muhammad.Sebelum itu, seluruh dunia belum a...

Abu Lahab

Binasalah kedua tangan Abu Lahab,dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya har...

Jahiliyah Modern

Jahiliyah modern (abad ke 20)  lebih sesat dari jahilyah sebelum Islam. Kalau jahiliyah modern memp...

Mimbar Jumat

Jannatul 'Adnin...

Salam dilimpahkan kepadamu Berbahag...

Tanah Palestina...

PALESTINA milik siapa? Milik Yahudi...

Shalahuddin Al-Ay...

Rakyat Palestina merindukan pahlawa...

Barakah Alhabsyi...

Seorang budak yang berkulit hitam d...

Lentera

Jannatul 'Adnin...

Salam dilimpahkan kepadamu Berbahag...

Tanah Palestina...

PALESTINA milik siapa? Milik Yahudi...

Shalahuddin Al-Ay...

Rakyat Palestina merindukan pahlawa...

Barakah Alhabsyi...

Seorang budak yang berkulit hitam d...

Lentera Ramadhan

Jannatul 'Adnin...

Salam dilimpahkan kepadamu Berbahag...

Tanah Palestina...

PALESTINA milik siapa? Milik Yahudi...

Shalahuddin Al-Ay...

Rakyat Palestina merindukan pahlawa...

Barakah Alhabsyi...

Seorang budak yang berkulit hitam d...

Banner
Rabiah Al Adawiyah
Articles | Lentera
Written by muhammad faisal on Tuesday, 09 September 2014 05:24   
Share

 

Suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, "Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun melebihi gunung-gunung. Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?" "Tidak," jawab Rabiah dengan suara tegas. Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya.

Lelaki itu berkata, "Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya. Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. Tetapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?" "Pasti," jawab Rabiah tak kalah tegas.

Lalu ia menjelaskan, "Kalau Tuhan tidak berkenan menerima tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti dari dosa, jangan simpan kata "akan" atau "andaikata" sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu."

Memang ucapan sufi perempuan dari kota Bashrah itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia bahkan pernah mengatakan, "Apa gunanya meminta ampun kepada Tuhan kalau tidak sungguh-sungguh dan tidak keluar dari hati nurani?"

Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Taz-kiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi sampai larut malam.

Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu. Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Setelah selesai salat isya, ia terus berdiri mengerjakan salat malam.

Pernah ia berkata kepada Tuhan, "Saksikanlah, seluruh umat manusia sudah tertidur lelap, tetapi Rabiah yang berlumur dosa masih berdiri di hadapan-Mu. Kumohon dengan sangat, tujukanlah pandangan-Mu kepada Rabiah agar ia tetap berada dalam keadaan jaga demi pengabdiannya yang tuntas kepada-Mu."Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala,

Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, "Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu."

Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, "Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu.

Tentang masa depannya ia pemah ditanya oleh Sufiyan at-Thawri: "Apakah engkau akan menikah kelak?" Rabiah mengelak, "Pernikahan merupakan kewajiban bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah." "Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?" "Karena telah kuberikan seluruh hidupku," ujar Rabiah. "Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?" Dengan tulus Rabiah menjawab, "Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan."

Oleh Dirja Hasibuan, S.PdI



Tags: Dirja Hasibuan  S.PdI  
 

Internasional

Rabiah Al Adawiyah...

Suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Ada...

Jannatul 'Adnin...

Salam dilimpahkan kepadamu Berbahagialah kamu, maka m...

Tanah Palestina...

PALESTINA milik siapa? Milik Yahudikah atau milik Ban...

Shalahuddin Al-Ayyubi...

Rakyat Palestina merindukan pahlawan seperti Shalahud...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada