Top Stories

Perda Pengharaman Miras
Dimensi Integrasi Bangsa
Menyongsong Titik Balik NU 2026

Harus jujur diakui sebagai otokritik, kompleksnya struktur NU belum berbanding lurus dengan kualitas dan produktivitas organisasi89 Tahun lalu, Nahdlatul Ulama (NU) didirikan, tepatnya tanggal 31 Januari 1926 yang dimotori para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang kemudian menetapkan Syaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rois Akbarnya. NU lahir di atas semangat melestarikan dan membumikan ke-Islaman yang Ahlussunnah wal Jama’ah (para pengikut sunnah Nabi, sahabat dan ulama salaf pengikut Nabi-Sahabat) dan nasionalisme untuk mewujudkan negara-bangsa yang merdeka. Sehingga dalam perjalanannya betapa besar manifestasi NU terhadap dunia Islam, khususnya dalam menjaga dan mengembangkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan gerakan memerdekakan dan mengisi kemerdekaan Indonesia tidak bisa dibantah lagi.

Media Dan Perselingkuhan Politik
Fenomena Global Dan Hujan Di Sumut

Opini

Seriuslah Benahi PSSI

Kegagalan demi kegagalan yang dialami timnas di semua level, mulai dari U19, U23, Timnas Senior memb...

Legitimasi Lembaga Adat (Refleksi 1 Tahun kehadiran Wali Nanggroe Aceh)

Implikasi dari keluarnya Qanun 8 Tahun 2012 tentang lembaga Wali Nanggroe maka Sistem Pemerintahan A...

Perda Pengharaman Miras

Begitu dahsyatnya kerusakan yang dibuat oleh Miras. Pemerintah yang harus berinisiatif  mengharamkan...

Dimensi Integrasi Bangsa

Dilihat dari sudut perjalanan kesejarahan, nilai keberagamaanlah yang menjadi perekat utama dari seb...

Menyongsong Titik Balik NU 2026

Harus jujur diakui sebagai otokritik, kompleksnya struktur NU belum berbanding lurus dengan kualitas...

Media Dan Perselingkuhan Politik

Menyikapi konflik di tengah kepentingan politik, media semestinya tidak menyerang media yang berlawa...

Fenomena Global Dan Hujan Di Sumut

Fenomena yang terjadi di Samudera Hindia yang disebut dipole mode yang memberikan dampak terhadap ti...

Mimbar Jumat

Seriuslah Benahi ...

Kegagalan demi kegagalan yang diala...

Legitimasi Lembag...

Implikasi dari keluarnya Qanun 8 Ta...

Perda Pengharaman...

Begitu dahsyatnya kerusakan yang di...

Dimensi Integrasi...

Dilihat dari sudut perjalanan kesej...

Lentera

Seriuslah Benahi ...

Kegagalan demi kegagalan yang diala...

Legitimasi Lembag...

Implikasi dari keluarnya Qanun 8 Ta...

Perda Pengharaman...

Begitu dahsyatnya kerusakan yang di...

Dimensi Integrasi...

Dilihat dari sudut perjalanan kesej...

Lentera Ramadhan

Seriuslah Benahi ...

Kegagalan demi kegagalan yang diala...

Legitimasi Lembag...

Implikasi dari keluarnya Qanun 8 Ta...

Perda Pengharaman...

Begitu dahsyatnya kerusakan yang di...

Dimensi Integrasi...

Dilihat dari sudut perjalanan kesej...

Banner
Melayu Dan Batak Dalam Strategi Kolonial
Articles | Opini
Share

 

Dr.Perret dari Paris mencatat; orang Melayu di pesisir Sumatera Timur menganggap dirinya berbudaya (civilized), sedang semua non Melayu dipandang sebagai orang yang tidak berpengetahuan, berperilaku kasar bahkan kanibal, diberi label Batak

“Memang tidak ada yang lebih tabah dari hujan di bulan Juni, ”… dihapusnya jejak keraguan …” di hati nan lara. Ini adalah penggalan puisi penyair Sapto Joko Darmono. Dalam cacatan harian saya Kamis dibulan Juni 1993, di tengah hujan rintik itu, seorang kandidat Doktor dari Sarbon University Paris, Daniel Perret datang membincangkan penelitian desertasinya di ruang kantor saya.

Karena perut telah keroncongan, kami keluar untuk makan siang dan meneruskan diskusi. Karena masalah pokok desertasinya sangat krusial dan sensitif mengenai Melayu dan Batak dalam strategi Kolonial Belanda, dia tampak ragu untuk meneruskan pembuktian hipotesa-hepotesa teoritis yang telah dibangunnya. Ternyata dua tahun kemudian keraguan itu telah sirna, dia berhasil mempertahankan desertasinya dengan gemilang.

Daniel Perret datang kembali ke Unimed 6 Juli lalu, tidak hanya dengan menyandang gelar Doktor di bidang sejarah antropologi, tetapi membawa sebuah buku desertasi Doktornya yang telah diterbitkan Pustaka Kompas (KPG) dengan judul: Kolonialisme dan Etnisitas : Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut. Buku itulah yang kami bedah dalam Forum Pussis (Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial) Unimed, yang dipimpin Dr Phil. Ichwan Azhari

Label Melayu dan Batak

Melayu bukan label etnis, dia adalah label budaya. Siapa saja dapat menjadi Melayu, asal dia beragama Islam, beradat istiadat Melayu berbahasa Melayu dan mengaku Melayu. Label Melayu dan Batak menurut Dr.Perret muncul bersamaan pada abad 16. Label Batak ini muncul sebagai pelengkap label Melayu. Orang Melayu di pesisir Sumatera Timur menganggap dirinya berbudaya (civilized), sedang semua orang yang non Melayu yang berada di pedalaman dan di lembah pegunungan Bukit Barisan dipandang sebagai orang yang tidak berpengetahuan, berperilaku kasar dan bahkan kanibal, diberi label Batak.

Istilah Batak ini disebutkan dengan konotasi merendahkan (seakan memiliki stigma/cacat sosial). Khusus mengenai istilah Batak, Daniel Perret menjelaskan bahwa istilah itu bukan berasal orang-orang Toba, Simalungun, Fak-Fak Bharat, Karo atau Mandailing/Sipirok. Label itu datang dari luar khasanah budaya mereka.

Daniel mencatat dari beberapa dokumen bahwa sebutan Batak tidak terdapat dalam sastra pra-kolonial. Bahkan dalam Hikayat Deli (1825) istilah Batak hanya sekali digunakan, sedang dalam Syair Putri Hijau (1924) sama sekali tidak menyinggung Batak atau Melayu. Baik dalam Pustaka Kembaren (1927) maupun Pustaka Ginting (1930) tidak dijumpai kata-kata Batak. Selain itu BS. Simanjuntak mencacat bahwa kata-kata Batak tidak dijumpai dalam Pustaha Toba. Memang dalam stempel Singamangaraja, yang tertera hanya kalimat ”Ahu Raja Toba”, bukan ”Ahu Raja Batak.”

Akan tetapi, kehidupan orang Melayu banyak tergantung pada orang-orang di kawasan dataran dan pegunungan itu, seperti tenaga pekerja untuk mengelola perkebunan, hasil hutan dan istri-istri. Karena label Batak dibawa dari luar, maka dia menjadi sebuah label yang kabur dan menyesatkan (evasive identity). Ketika seorang menganggap orang lain Batak, maka dia merasa lebih tinggi dari orang lain itu.

Perobahan-perobahan sosial ekonomi yang kurang kondusif di Aceh pada permulaan abad XX, menyebabkan kesultanan-kesultanan Melayu Sumatera Timur mengembangkan ruang budi daya pertanian lada, kopi, gambir dan kapas kedaerah dataran tinggi/pegunungan, maka ruang antara Melayu dan Batak berobah menjadi produksi pertanian yang produktif. Kohesi antara pesisir (sultan-sultan) dan pedalaman (panglima-panglima) ditumbuhkan dalam kelembagaan-kelembagaan ”Datuk Empat Suku.” Proses Melayunisasi dari kelembagaan ini sejalan dengan Islamisasi, sehingga ruang kehidupan orang-orang Batak (uncivilized/tidak berbudaya) menjadi semakin sempit. Akhirnya kelompok-kelompok baru (yang disebut Melayu Dusun) ini, menjadi otonom. Waktu pihak asing datang mereka telah dapat menjalin hubungan langsung tanpa meminta persetujuan Sultan-Sultan Melayu.

Dalam kesempatan berhubungan langsung dengan elit pedalaman ini para kontrolir Belanda yang ditempatkan di dusun-dusun (Simalungun, Karo dan Toba) memperkuat keterpisahan mereka dengan Sultan-Sultan Melayu Pesisir, dan mendorong tumbuhnya perasaan komunitas dan kesadaran etnis sendiri, sebagai orang Batak. Mulai tahun 1888 kontrolir-kontrolir yang ditempatkan di dusun-dusun ditugaskan untuk menangani urusan Batak yaitu membela kepentingan orang Batak berhadapan dengan orang Melayu.

Di samping itu, pemerintah kolonial menciptakan ruang hukum untuk Dusun dan Dataran sebagai ”ruang hukum” Batak, sedang untuk daerah pesisir dimasukkan dalam ruang hukum Melayu. Dengan keterpisahan ini Belanda dapat lebih mudah memancing konflik antara Melayu dan Batak seperti pecahnya perang Sunggal (1872). Di satu sisi perkebunan asing/Belanda menerima konsesi tanah dari Sultan Melayu dengan sukacita, di sisi lain pemerintah kolonial merangang timbulnya protes dari pemilik tanah penduduk asli setempat.

Demikianlah pemerintah Belanda menggunakan label Batak untuk mempersatukan seluruh suku-suku non-Melayu sebagai sebuah identitas etnik. Pemerintah Belanda terus menerus memompakan label Batak dengan penguatan sosio-geografis tertentu, nilai-nilai adat budaya dan kemudian agama Kristen. Sehingga keterpisahan kawasan Batak dengan Melayu menjadi lebih nyata dan kontras, tidak dalam pengertian budaya (civilized and uncivilized). Tetapi dalam pengertian kelompok etnik Melayu versus Batak.

Untuk mengukuhkan gerakan ini secara akademis, pemerintah Belanda di Universitas Leiden mendirikan Bataksch Institut. Beberapa cabangnya Bataksch Vereeniging didirikan pada lokasi-lokasi tertentu seperti di Tapanuli dengan berbagai kegiatan termasuk melaksanakan pertemuan-pertemuan, mendirikan museum, opera Batak (Tilhang) yang adopsi dari teater Bangsawan Melayu, menulis adat Batak (yang disusun oleh seorang kontrolir, 1909).

Sementara itu, dibagian Selatan Tapanuli telah berdiri kelompok (Bangsa) Mandailing yang berseberangan dengan kelompok Batak di Utara. Sebagai migran di kota Medan, mereka saling berhadapan pula dalam berbagai polemik wacana mengenai Batak bahkan konflik terbuka (peristiwa Sungai Mati 1920). Orang Mandailing tidak mau disebut Batak karena mereka merasa sudah berbudaya tinggi (civilized), jadi bukan melulu karena masalah geneologis.

Desertasi Daniel Perret ini menyimpulkan bahwa baik istilah Batak maupun Melayu bukanlah label etnik, tetapi label budaya (civilized and uncivilized). Tetapi untuk kepentingan strategi kolonial, pemerintah Belanda telah mampu ”memaksakan” orang-orang Simalungun, Karo, Fak-Fak Bharat dan Toba menerima Label Batak sebagai label kesatuan etnik dan mematahkan jalinan sosial-tradisional antara kawasan pesisir dan pegunungan (Melayu dan non-Melayu). Bahkan menyediakan fasilitas unsur-unsur pembentukan dan penegasan identitas etnis baru itu sebagai orang Batak. Semua itu untuk kepentingan strategi (divide et empera) Kolonial Belanda. Kesimpulan ini disampaikan Daniel Perret dalam bedah buku itu, tanpa keraguan lagi. ( Prof Usman Pelly, PhD : Penulis adalah Antropolog Unimed )

 

 

Internasional

Menangkap Pesan Anies...

Sayangnya kita sering terjebak dalam sebuah stigma ma...

Seriuslah Benahi PSSI...

Kegagalan demi kegagalan yang dialami timnas di semua...

Legitimasi Lembaga Adat (R...

Implikasi dari keluarnya Qanun 8 Tahun 2012 tentang l...

Perda Pengharaman Miras...

Begitu dahsyatnya kerusakan yang dibuat oleh Miras. P...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada