Top Stories

Menjerat Korupsi Lintas Negara
Menjerat Tindak Pidana Korporasi
Setelah Akil, Patrialis, Siapa Menyusul?
Ahok Ancam Ketua MUI Pusat
NU 91 Tahun

Opini

Bayi Terpapar Narkoba

Seorang anak bahkan bisa terpapar Narkoba sejak masih dalam kandungan jika ibunya merupakan seorang ...

Ulama Pemecah NKRI ?

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah besok, lusa kita akan kembali pada Allah SWT. Apaka...

Menjerat Korupsi Lintas Negara

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya masalah nasional saja tapi juga masalah internasional. Perkemban...

Menjerat Tindak Pidana Korporasi

Tidak hanya pada law in the books, pada law in action pun korporasi juga telah dijadikan subjek huku...

Setelah Akil, Patrialis, Siapa Menyusul?

Perbuatan Patrialis bisa dianggap  ‘’luar bisa’’ maka sewajarnya diganjar hukuman paling berat. Sete...

Ahok Ancam Ketua MUI Pusat

Pada sidang ke-8 kasusnya, Ahok mengancam Ketua MUI Pusat dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu....

NU 91 Tahun

Kelahiran NU 91 tahun lalu diwarnai berbagai dialog kepercayaan dan budaya sehingga menghasilkan seb...

Mimbar Jumat

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Lentera

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Lentera Ramadhan

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Banner
Doa Politik Di Negara Demokrasi
Articles | Opini
Written by muhammad faisal on Tuesday, 23 August 2016 13:45   
Share
Politisasi agama dalam pertarungan simbol dan jargon keagamaan akan semakin menguat. Ini tidak dapat dihindari manakala orientasi politik praktis dengan kekuatan agama justru untuk melanggengkan status quo

H. Raden Muhammad Syafi’i seorang lagislator asal Sumatera Utara tiba-tiba menjadi pemberitaan viral di media sosial secara nasional. Secara simultan viral tersebut menjadi bahan perdebatan. Pasalnya doa yang Romo Syafi’i bawakan dianggap menghujam ke dalam jantung pertahanan politik penguasa. Doa tersebut dianggap menyindir keras pemimpin yang sedang berkuasa. Bagi pengkritik, doa penutupan sidang paripurna MPR/DPR tahun 2016 di hadapan presiden dan wakil oresiden diyakini bersifat tendensius karena apalagi kalau bukan karena sang pendoa berasal dari partai oposisi.

Sementara, bagi kelompok yang meyakini bahwa muatan doa yang disampaikan oleh Romo adalah harapan yang dipanjatkan kepada Sang Khalik berangkat dari realitas yang dirasakan masyarakat. Perdebatan yang muncul lagi-lagi menegaskan bagaimana dua kubu yang sejak pasca Pilpres 2014 terbelah menjadi dua arus besar menunjukkan eksistensinya sampai hari ini. Tak perlu ragu mengatakan bahwa mereka yang bersitegang atas doa yang dilangitkan oleh Romo Syafi’i adalah dua kutup yang saling menegasikan satu sama lain.

Reaksi dari doa tersebut hanyalah salah satu puncak ketegangan yang mencuat karena rivalitas politik yang berbeda. Soal apakah substansi doa itu penting atau tidak, layak atau tidak bahkan etis atau tidak semuanya menjadi kabur oleh persepsi bahwa sang pendoa adalah “musuh” pemerintah. Jadi doanya pun “menyerang” pemerintah, begitu salah satu argumen yang mencuat ke permukaan, bahkan lebih parah lagi, doa tersebut dianggap pesanan dari sang “komandan” oposisi, Prabowo. Maka lengkapkah garis pertarungannya. Kalau Anda tidak percaya, silahkan identifikasi kelompok yang pro dan kontra terhadap isu tersebut.

Ruang Agama Di Alam Demokrasi

Perkara doa bisa menghebohkan jagad media sosial, tentu ini menarik untuk dicermati di alam demokrasi di mana agama masih punya posisi yang kuat turut andil memberikan kontribusi tentang bagaimana demokrasi itu terwarnai. Ada kesan bahwa doa yang dilangitkan pada sidang tersebut sengaja digunakan untuk membawa-bawa Tuhan dalam urusan rivalitas politik.

Agama di alam demokrasi memang menjadi salah satu alat yang dapat melegetimasi politik baik itu oleh penguasa maupun oleh oposisi, kekuatan tersebut sejatinya muncul karena konteks masyarakat Indonesia yang menjadikan wilayah agama sebagai bagian dari ruh politik itu sendiri. Elit politik tidak bisa lepas dari konsepsi bahwa agama adalah komoditas politik yang masih relevan digunakan untuk melegitimasi atau mendelegitimasi sebuah kekuasaan.

Di alam demokrasi hal demikian tentu sah-sah saja, karena agama memiliki pesan profetik dalam bidang politik melalui ajaran-ajarannya tentang kekuasaan, tentang pemimpin dan tentang kehidupan sosial yang lagi-lagi tidak dapat dipisahkan dari arus utama pergolakan politik. Sehingga wajar jika isu agama ini dapat ditafsirkan sesuai selera pihak yang menggunakannya. Contohnya doa Romo Syafi’i tersebut dipahami sesuai dengan preferensi politik masing-masing pihak yang dianggap dirugikan atau bahkan diuntungkan dari kata-kata yang termaktub dalam doa. Demokrasi di Indonesia memang unik, agama dapat bersandingan dengan demokrasi yang masih banyak diyakini tidak compatible dengan ajaran agama.

Argumentasi Kuntowijoyo (1997) ketika berbicara tentang identitas politik umat Islam misalnya. Demokrasi di Indonesia bukan diarahkan untuk menjadi demokrasi sekuler yang menghempaskan agama ke dalam urusan domestik atau privat semata, melainkan demokrasi yang menjembatani nilai-nilai ukhrawi atau Ilahiyah kedalam sistem, struktur dan proses demokrasi. Karena itu jika ada afiliasi agama dengan orientasi politik menjadi sebuah pilihan perjuangan tentu dapat dipahami bahwa hal tersebut adalah bagian dari proses ijtihad politik yang mencoba menformulasikan bagaimana ajaran agama ikut serta berkontribusi bagi substansi tujuan dari politik yaitu kemajuan dan kesejahteraan.

Lantas bagaimana dengan dua pihak yang saling pro dan kontra soal urusan doa di panggung politik? Sebenarnya hal tersebut adalah cermin dari dua kutub yang saling berseberangan tentang bagaimana agama diposisikan di ruang-ruang demokrasi. Terminologi haters dan lovers dalam perdebatan antara dua kubu pendukung pemerintah dan pendukung oposisi adalah sisi lain cermin dari riak-riak ketidakpahaman bahwa dalam sistem demokrasi penguasa dan oposisi adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Agama Bagi Penguasa & Oposisi

Yang menarik dari puncak ketegangan dimainkannya isu agama di ruang demokrasi adalah kemana agama berpihak? Di sini, masing-masing kekuatan dari agensi agama saling tarik-menarik apakah akan pro penguasa atau pro oposisi. Kita tidak perlu heran jika menjelang Pemilu Ormas keagamaan tidak jarang saling memberikan dukungan, baik langsung maupun tidak langsung. Identitas keagamaan menjadi penting untuk ditarik ke ranah politik praktis karena ia memiliki modal besar untuk memenangkan pertarungan.

Jika agama masuk menjadi bagian dari pendukung kekuasaan maka kompromi politik bernuansa keagamaan akan kental mewarnai kebijakan. Pada poin inilah sering terjadi perdebatan semisal yang didengungkan oleh kalangan reformis keagamaan bahwa jika agama dekat dengan penguasa maka besar peluang agama akan digunakan melanggengkan kekuasaan. Jika jauh dari penguasa diyakini bahwa penguasa tersebut jauh dari nilai-nilai agama, sehingga kalangan yang mencoba membawa agama masuk dalam sistem pemerintahan menemukan alasan sosiologisnya.

Jika agama memilih menjadi bagian dari opisisi, hal dilematis juga akan sama, bagi para pengkritiknya, alasan agama di bawa-bawa adalah alasan kamuflase. Bagi mereka agama hanya alat untuk memenuhi syahwat politik sekelompok golongan, karena agama tidak semestinya  masuk dalam wilayah politik dan ketatanegaraan karena dianggap akan menimbulkan kecurigaan-kecurigaan.

Penutup

Jika kesadaran politik warga negara masih berputar pada wilayah pragmatisme, bahwa tujuan politik adalah untuk kekuasaan an sich, maka politisasi agama dalam pertarungan simbol dan jargon keagamaan untuk kelompok tertentu akan semakin menguat. Hal ini tidak dapat dihindari manakala orientasi politik praktis dengan menggunakan kekuatan agama justru untuk melanggengkan status quo.

Soal posisi agama sebaiknya berada pada wilayah kekuasaan atau opisisi, maka semua itu tergantung sejauh mana daya kritis masyarakat memunculkan ruang kritik yang terus muncul sebagai bentuk respons atas pilihan dan arah kemana agama akan dibawa. Soal doa, mari sama-sama kita aminkan selama itu baik untuk kemaslahatan bangsa dan negara siapapun pemimpinnya.

Oleh Surya Adi Sahfutra



 

Internasional

Wirausaha Sebagai Pijar Pe...

Dalam pengembangan kewirausahaan mahasiswa, pemerinta...

Bayi Terpapar Narkoba...

Seorang anak bahkan bisa terpapar Narkoba sejak masih...

Ulama Pemecah NKRI ?...

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah beso...

Menjerat Korupsi Lintas Ne...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya masalah nasional ...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada