Top Stories

Menoleh Wajah Islam 2016
Kembali Kepada Alquran
Hukum Perayaan Natal Bersama
Hikmah Ihtifal Maulid Nabi Muhammad SAW
Membangun Sejuta Asa Untuk Aceh

Opini

Pandangan Alquran Tentang Integrasi Ilmu Pengetahuan

(Peluang Dan Tantangan Bagi UIN SU) Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ? Kal...

Gerakan Subuh Berjamaah

Dirikanlah shalat dari sesudah Matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula...

Menoleh Wajah Islam 2016

Masuknya tenaga kerja asing secara ilegal dan menyusupnya paham PKI terkesan hanya umat Islam sa...

Kembali Kepada Alquran

(Muhasabah Akhir Tahun) Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu s...

Hukum Perayaan Natal Bersama

Komisi fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) sejak 35 tahun lalu tepatnya 17 Maret 1981 telah menge...

Hikmah Ihtifal Maulid Nabi Muhammad SAW

Hikmah peringatan Maulid Nabi adalah dapat mengukuhkan komitmen, loyalistas dan kesetiaan pada ...

Membangun Sejuta Asa Untuk Aceh

Ya Allah! Kami mengaku bahwa Engkau tidak akan memberi beban di luar kemampuan kami Ya Allah !...

Mimbar Jumat

Pandangan Alquran...

(Peluang Dan Tantangan Bagi UI...

Gerakan Subuh Ber...

Dirikanlah shalat dari ses...

Menoleh Wajah Isl...

Masuknya tenaga kerja asing sec...

Kembali Kepada Al...

(Muhasabah Akhir Tahun) ...

Lentera

Pandangan Alquran...

(Peluang Dan Tantangan Bagi UI...

Gerakan Subuh Ber...

Dirikanlah shalat dari ses...

Menoleh Wajah Isl...

Masuknya tenaga kerja asing sec...

Kembali Kepada Al...

(Muhasabah Akhir Tahun) ...

Lentera Ramadhan

Pandangan Alquran...

(Peluang Dan Tantangan Bagi UI...

Gerakan Subuh Ber...

Dirikanlah shalat dari ses...

Menoleh Wajah Isl...

Masuknya tenaga kerja asing sec...

Kembali Kepada Al...

(Muhasabah Akhir Tahun) ...

Banner
Kembali Kepada Alquran
Articles | Mimbar Jumat
Written by Edy Rachmad on Friday, 23 December 2016 09:12   
Share
(Muhasabah Akhir Tahun)

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji (QS. Ibrahim ayat 1)

Dalam kehidupan ini selalu saja terjadi dua hal yang kontroversial, bahkan Alquran selalu mengungkap hal-hal yang kontroversial ini. Salah satu hal yang kontroversial dimaksud disebutkan pada ayat di atas yaitu al-nur (cahaya) yang selalu dipertentangkan dengan al-zulumat (kegelapan).

Kata al-nur yang terdapat di dalam Alquran memiliki banyak makna di antaranya cahaya, kemajuan, petunjuk, kecerdasan dan lain-lain. Halnya kata al-zulumat memiliki banyak makna di antaranya kegelapan, kebodohan, keterpurukan, keterbelakangan dan lain-lain.

Alquran senantiasa memosisikan dirinya sebagai al-nur yaitu sebagai isyarat bahwa setiap ayatnya pasti memberikan pencerahan. Kemudian, Alquran memparadokskannya dengan al-zulumat yaitu sebagai isyarat bahwa Alquran senantiasa anti kepada kezaliman, kebodohan dan lain-lain.

Sebagai wahyu Tuhan maka sudah pasti bahwa Dia akan memihak kepada orang-orang yang menjadikan wahyu-Nya sebagai petunjuk. Secara logika, pertolongan Tuhan akan diberikan-Nya kepada orang yang benar-benar berpegang teguh kepada Alquran bukan hanya sebatas slogan saja. Sebaliknya, orang-orang yang tidak peduli pada Alquran maka Tuhan tidak akan pernah peduli kepada mereka. Karena itu, Tuhan menghendaki agar umat Islam menjadikan Alquran sebagai alat (media) untuk menunjuki manusia kepada cahaya yang terang (al-nur).

Pada tataran ini, Tuhan memberi semacam garansi yang jika umat Islam ini menjadikan Alquran sebagai pedomannya pasti mereka akan maju. Tentu saja, sebelum menunjuki orang lain, seharusnya umat Islam terlebih dahulu menjadikan Alquran sebagai petunjuk di dalam kehidupannya.

Kejayaan Islam pada abad-abad pertama hijrah karena umat Islam pada masa ini konsisten menjadikan Alquran sebagai petunjuk hidup. Mereka pandai menginspirasi pesan-pesan Alquran yang kemudian mengaplikasikannya di dalam berbagai lini kehidupan.

Kembali kepada Alquran dalam berbagai hal tidak dapat ditawar-tawar. Setiap kebijakan yang hendak dibuat harus mengacu kepada ayat-ayat Alquran. Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam sekarang ini memperbanyak kajian tentang Alquran dengan membuat penafsiran baru.

Urgensi kembali kepada Alquran karena kajian keagamaan selama ini berhenti pada tataran tafsir. Dengan kata lain, yang selalu diperbicangkan adalah pendapat mufassir, fuqaha', mutashawwifin dan ahli kalam tanpa ada upaya memberikan penafsiran lain terhadap ayat yang bersangkutan.

Sebagai kitab petunjuk, tentu saja Alquran mengandung makna yang sangat banyak guna menyahuti perkembangan peradaban manusia. Jika problema kekinian dan kedisinian dicukupkan dengan mengambil penafsiran terdahulu maka tidak akan pernah ada jawaban yang akurat.

Pernyataan Alquran bahwa petunjuknya untuk semua manusia adalah merupakan garansi bahwa Alquran siap dijadikan petunjuk kapan dan dimana saja. Menurut hemat penulis, ada tiga alasan yang selalu dikemukakan sebagian orang tentang sulitnya kembali kepada Alquran.

Pertama, Alquran diturunkan dalam bahasa Arab sehingga yang bukan Arab kesulitan memahaminya. Alasan ini sangat apologetik karena Alquran sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Ketidaktahuan memahami bahasa Alquran bukan sebagai alasan untuk tidak kembali kepadanya.

Kedua, terdapat seperangkat aturan yang dibuat dalam menafsirkan Alquran. Aturan ini selalu dijadikan tameng oleh sebagian orang tentang sulitnya kembali kepada Alquran. Perlu diketahui bahwa Alquran tidak pernah membuat aturan yang njelimet untuk memahaminya.

Ketiga, memahami hadis yang artinya "barangsiapa yang menafsirkan Alquran dengan pendapatnya maka Setan adalah gurunya atau hendaklah mengambil tempat di Neraka". Hadis ini bukan merupakan larangan tetapi sebagai peringatan agar Alquran jangan ditafsirkan menurut hawa nafsu.

Kelemahan dalam memahami bahasa Arab tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak kembali kepada Alquran. Bahkan orang Arab sekalipun yang paham bahasa Alquran belum dapat dikatakan telah kembali kepada Alquran. Contohnya, mereka perang saudara yang Alquran dengan tegas melarangnya.

Persoalan yang paling urgen sebenarnya adalah keinginan yang kuat untuk kembali kepada Alquran bukan karena paham atau tidak paham terhadap bahasanya. Sekiranya di antara kita banyak yang tidak memahami Alquran tentu dapat meminta bantuan kepada orang-orang yang dapat memahaminya.

Disadari atau tidak, banyaknya aturan dalam menafsirkan Alquran membuat kajian terhadapnya mundur. Aturan yang banyak ini menimbulkan sikap pesimis yang seolah hanya orang-orang dahulu saja yang mampu menafsirkannya sedangkan orang sekarang tidak memiliki kemampuan.

Ketika sekarang terjadi suatu kejadian yang membutuhkan jawaban Alquran maka yang dijadikan jawabannya adalah penafsiran tempo dulu. Cara yang seperti ini dapat membuat ayat-ayat Alquran terkesan tidak relevan dengan zaman karena ada upaya pemaksaan bahwa maknanya harus seperti itu.

Pada umumnya, alasan yang dikemukakan di atas tidak disebutkan dalam Alquran bahkan Alquran menyatakan setiap pesannya mudah untuk dipahami. Menarik sekali pernyataan Imam Ja'far al-Shadiq bahwa ayat-ayat Alquran banyak makna dan biarkanlah zaman yang menafsirkannya. Ciri khas pesan Alquran itu adalah ringkas (al-ijaz) dan tidak bertele-tele (al-ithnab) sehingga setiap pesan yang disampaikannya mudah dipahami. Kemudahan dalam memahami pesan-pesan Alquran ini membuat aturannya nikmat untuk diamalkan.

Menurut Sayyid anâwî dalam tafsirnya al-Wasî, bahwa Alquran adalah kitab suci yang mulia keberadaannya dan besar kekuasaannya. Tujuan Alquran diturunkan adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kafir seperti kebodohan dan kesesatan menuju cahaya seperti iman, ilmu dan hidayah.

Perlu dipahami tujuan paling utama diturunkan-Nya Alquran adalah untuk mengeluarkan manusia dari kezaliman kepada cahaya. Tentu saja, hal ini menunjukkan bahwa semua perbuatan dan hukum Tuhan yang ada dalam Alquran bertujuan untuk menjaga kemaslahatan.

Adanya kemaslahatan inilah yang mengharuskan kita kembali kepada Alquran. Adapun pendapat yang selama ini dipegang sifatnya adalah tentatif yang ukuran kemaslahatannya sangat temporer. Berbeda dengan aturan Alquran yang kemaslahatannya berlaku sepanjang zaman.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan ayat di atas memberi isyarat tentang besarnya potensi Alquran dalam menata dan mengarahkan kehidupan manusia.

Hidup manusia perlu ditata supaya terangkat dari lembah kehinaan menuju puncak kemuliaan. Karena itu, untuk mewujudkan kemaslahatan ini terletak pada sejauhmana kemauan kita kembali kepada Alquran. *****( Achyar Zein : Dosen UIN SU )



Tags: Mimbar Jumat  
 

Internasional

Masjid Quba Pertama Di Dun...

Masjid yang pertama dibangun langsung di dunia i...

Pandangan Alquran Tentang ...

(Peluang Dan Tantangan Bagi UIN SU) Maka ...

Gerakan Subuh Berjamaah ...

Dirikanlah shalat dari sesudah Matahari terg...

Menoleh Wajah Islam 2016...

Masuknya tenaga kerja asing secara ilegal dan men...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada