Top Stories

Masyarakat Informasi Dan Hoax
Memeratakan Pembangunan
Sejuta Penyimpangan
HIV Dan Ibu Menyusui
Wahyu Yang Membumi

Opini

Mereka Favorit Menuju BK-1

Menurut analisis, jabatan orang nomor satu di PSSI bukan tanpa risiko. Bisa positif dan negatif. Mas...

Simbol Untuk Komoditas Politik

Penguasa memanfaatkan media untuk kepentingan politik mereka, walau terkadang mengabaikan kebenaran ...

Masyarakat Informasi Dan Hoax

Karena itu dalam aspek penyajian informasi perlu memperhatikan kesadaran individual dan kepribadian ...

Memeratakan Pembangunan

Apa jadinya pembangunan kalau persentase pengangguran tinggi. Jadi apanya yang harus dibanggakan pad...

Sejuta Penyimpangan

Terasakah kini orang dianggap pendosa besar jika mengkritik? Sebetulnya itu tidak perlu, untuk sebu...

HIV Dan Ibu Menyusui

Dalam hal pemberian ASI pada situasi ibu mengidap infeksi HIV memerlukan pertimbangan atas keuntunga...

Wahyu Yang Membumi

Ada sesuatu yang kurang beres dalam sistem keagamaan yang dipahami atau diamalkan selama ini yang be...

Mimbar Jumat

Mereka Favorit Me...

Menurut analisis, jabatan orang nom...

Simbol Untuk Komo...

Penguasa memanfaatkan media untuk k...

Masyarakat Inform...

Karena itu dalam aspek penyajian in...

Memeratakan Pemba...

Apa jadinya pembangunan kalau perse...

Lentera

Mereka Favorit Me...

Menurut analisis, jabatan orang nom...

Simbol Untuk Komo...

Penguasa memanfaatkan media untuk k...

Masyarakat Inform...

Karena itu dalam aspek penyajian in...

Memeratakan Pemba...

Apa jadinya pembangunan kalau perse...

Lentera Ramadhan

Mereka Favorit Me...

Menurut analisis, jabatan orang nom...

Simbol Untuk Komo...

Penguasa memanfaatkan media untuk k...

Masyarakat Inform...

Karena itu dalam aspek penyajian in...

Memeratakan Pemba...

Apa jadinya pembangunan kalau perse...

Banner
Wahyu Yang Membumi
Articles | Opini
Written by muhammad faisal on Saturday, 07 January 2017 07:11   
Share

Ada sesuatu yang kurang beres dalam sistem keagamaan yang dipahami atau diamalkan selama ini yang berkonsekuensi logis pada pengamalan

Di sebuah gang sempit di tengah deru kendaraan bermotor dan polusi udara yang nyaris sempurna, hiduplah seorang janda tua yang miskin. Rumah yang dihuninya sungguh tidak layak. Selain tidak memenuhi standar kesehatan, rumah itu juga terletak di sebelah parit busuk. Predikat busuk bukan agar mudah dikenali, namun karena aroma yang ditimbulkannya. Mulai dari limbah keluarga sampai tradisi membuang sampah sekehendak hati menjadi variabel penting kebusukan aroma parit itu.

Janda sengsara tersebut sudah beberapa tahun ditinggal mati oleh suaminya. Ia berprofesi sebagai penarik becak tua. Anaknya terdiri dari tiga orang. Satu berkelana dan entah dimana rimbanya, satu sudah berkeluarga namun minus atensi kepada ibunya, dan satunya lagi hidup membujang dan kini mengalami depresi berat. Secara sosial, keluarga malang itu hidup dalam suasana sepi di tengah keramaian. Tak sedikit anggota masyarakat mencibir kehidupan mereka bahkan meletakkan mereka pada kasta kehidupan terendah.

Kini janda tua itu hidup sendirian menjalani hari-hari tua yang terasa semakin tak pasti. Bagaimana tidak? Salah seorang anak yang menjadi tumpuan dan harapan hidupnya tidak lagi dapat diandalkan. Sementara pada sisi lain, kurangnya asupan gizi dan penyakit berat yang dideritanya menjadi masalah tersendiri. Secara psikologis hidupnya penuh dengan tekanan, sementara secara material hidupnya penuh dengan kekurangan.

Menyerap Semangat Ritual

Tapi ada sebuah ironi di seputar kehidupan janda tua itu. Gubuk reot yang menjadi tempatnya bernaung terletak tidak jauh dari beberapa masjid yang terbilang mewah. Bahkan di sekitarnya juga hidup kaum Muslimin, cerdik cendekia, bahkan orang-orang kaya yang berkecukupan. Ada dua perjalanan hidup yang berlangsung di tempat itu, namun keduanya tidak berjalan beriringan, bahkan bergerak saling menjauh. Kehidupan si janda tua semakin terpuruk sementara kehidupan masyarakat di sekitarnya semakin mewah.

Melihat fenomena ini, nalar keagamaan kita bekerja kembali. Tidakkah agama diturunkan Allah untuk sebuah pembebasan? Tentu saja pembebasan dalam arti luas, misalnya bebas dari kebodohan, bebas dari kepicikan, bebas dari keterbelakangan, bebas dari penjajahan dan bebas dari kemiskinan? Mengapa terjadi kemiskinan di tengah kecukupan? Bukankah Islam adalah agama pembebasan yang peduli dengan berbagai penyakit sosial?

Pertanyaan-pertanyaan nakal dan menggelitik ini tidak mudah untuk dijawab. Meskipun demikian, penulis berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang kurang beres dalam sistem keagamaan yang dipahami atau diamalkan selama ini yang berkonsekuensi logis pada pengamalan Islam sehari-hari. Pada tataran yang lebih jauh, hal ini akan berujung pada lahirnya citra negatif terhadap agama Islam itu sendiri.

Penjelasan yang paling sederhana adalah dengan melihat model keislaman kaum Muslimin di lokasi tersebut. Model fikih oriented sepertinya menjadi primadona, bukan model keislaman komprehensif. Model ini bertujuan membentuk pola pikir kaum Muslimin melalui ibadah-ibadah ritual praktis yang dilaksanakan sehari-hari. Misalnya syahadat, sholat, puasa, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji. Apa dan bagaimana implementasi nilai-nilai ritual itu dalam kehidupan sehari-hari sering terabaikan.

Dengan model tersebut, standar kemuliaan seseorang diukur dari syahadat yang diucapkannya, sholat yang tidak pernah ditinggalkannya, puasa yang dikerjakannya, zakat yang dibayarkannya, dan haji yang ditunaikannya. Jika seorang Muslim melaksanakan ritual-ritual ini, maka predikatnya sebagai hamba yang religius layak disematkan. Rasa keislaman seorang Muslim dianggap sempurna melalui runtutan ritual ini.

Sampai di sini, model itu tidak melahirkan masalah. Masalah akan muncul ketika hal itu berhenti pada tataran ritual dan mandul untuk melahirkan pesan moral dalam kehidupan nyata. Karena itu, sering kita lihat seorang Muslim rajin melaksanakan sholat, namun hidupnya kumuh, buang sampah sembarangan, egois dan hanya mementingkan kesenangannya sendiri, serta tidak peduli dengan nasib orang lain.

Padahal sesungguhnya, Islam adalah agama kemanusiaan. Artinya, agama ini diturunkan Allah untuk kebahagiaan umat manusia. Menjadi seorang Muslim berarti menjadi orang yang memiliki komitmen kuat untuk mengangkat harkat dan martabat nilai-nilai kemanusiaan. Sejauh yang penulis pahami, semua ajaran Islam yang terkandung dalam Alquran maupun As-Sunnah bermuara untuk kemaslahatan umat manusia.

Di sinilah letak kesempurnaan Islam itu. Kesempurnaan tersebut tidak lepas dari konteks kehidupan. Dimana ada permasalahan dalam kehidupan, nilai-nilai luhur Islam mesti hadir di tempat itu. Kesempurnaan Islam mengintegrasikan dua hal yang padu, yaitu teks dan konteks, atau nilai-nilai normatif sebagai panduan dan nilai praktis sebagai implementasi. Kesempurnaan Islam ternodai ketika ajaran-ajarannya tumpul dan lumpuh menghadapi dinamika persoalan di masyarakat. Inilah yang sekarang menjadi fenomena menyedihkan.

Jika dicermati model ideal keislaman versi Rasulullah, maka kehadirannya merupakan titik balik perubahan dari sistem kehidupan yang merendahkan harkat dan martabat manusia menuju pembebasan yang mencerahkan. Di antara jasa besar Rasulullah adalah ikhtiar kemanusiaan yang dilakukannya secara sistemik. Padahal sebelumnya nilai-nilai kemanusiaan ditentukan oleh hegemoni kekuasaan dan kapitalisasi ekonomi. Dari lisannya yang suci terlontar kalimat-kalimat yang tak usang hingga kini, misalnya; jadilah tokoh-tokoh perdamaian, hilangkanlah rasa lapar, eratkan hubungan silaturrahim.

Islam di tangan Rasulullah ditransfomasikan dalam segala lini kehidupan, baik dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Wahyu begitu hidup dan membumi. Wahyu tidak berhenti pada tataran hapalan apalagi membatu yang hanya terletak di hati. Wahyu bagi Rasulullah SAW adalah nyawa dan dinamisator peradaban. Ia membumi dan dirasakan manusia tanpa memandang latar belakang keimanan dan status sosial. Pemahaman dan semangat seperti ini seharusnya jadi renungan dan nafas berbagai perubahan di masyarakat.

Mulai dari persaksian syahadat sampai pelaksanaan ibadah haji, Rasulullah menjadikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai ending target (target akhir). Ukuran kemuliaan manusia sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah terletak pada kematangan setiap pribadi Muslim dalam merawat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan secara substantif sama artinya dengan mencederai tujuan syahadat sampai pelaksanaan ibadah haji. Umat Islam kini lupa jika terdapat seorang Muslim yang masih kelaparan di tengah kecukupan harta saudara-saudaranya, itu sama artinya dengan menistakan kesempurnaan dan kemuliaan Islam.

Membangun Kebersamaan

Gubuk reot tempat berteduh janda tua itu setiap waktu disinggahi gema suara azan. Namun suara itu tidak serta merta dapat menghapus duka dan lara serta kekurangan makanan di rumahnya. Masjid semestinya menjadi media penghubung dan waduk kesadaran religius dan sosial umat Islam. Berbagai persoalan dibahas dan dicarikan jalan keluarnya termasuk persoalan janda tua itu. Kasus menyedihkan janda tua itu sebenarnya tak perlu terjadi. Umat Islam dapat bahu membahu mengatasi berbagai kesulitannya, apakah secara konsumtif maupun produktif. Penulis yakin, jika seorang Muslim turun tangan membantu kesusahan janda tua itu, Allah tidak akan membalasnya dengan apa pun kecuali surga. Itulah salah satu implementasi Islam yang manusiawi. Wallaahu a’lam.

Oleh Muhammad Qorib

Penulis adalah Dosen FAI UMSU.


Tags: Muhammad Qorib  
 

Internasional

“Opini Waspada” Menjaga In...

Novelis dunia, Maxim Gorky dari Rusia menciptakan met...

Mereka Favorit Menuju BK-1...

Menurut analisis, jabatan orang nomor satu di PSSI bu...

Simbol Untuk Komoditas Pol...

Penguasa memanfaatkan media untuk kepentingan politik...

Masyarakat Informasi Dan H...

Karena itu dalam aspek penyajian informasi perlu memp...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada