Top Stories

Nasib Pedagang Pasar Kampunglalang Semakin Tidak Jelas
FPI Sumut Buka Rumah Singgah Ramadhan
Perwira Polisi Dikejar Jukir Liar Pakai Parang
Masyarakat Harus Aktif Cegah LGBT
Jual Beli Stand Masih Warnai Pelaksanaan Ramadhan Fair

Opini

Kasus Suap Di BPK Harus Dituntaskan

MEDAN (Waspada):  Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Surya Adinata SH, berharap kasus suap terk...

Pembahasan RUU Terhambat Karena Menteri Sering Tidak Datang

MEDAN (Waspada): Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Firman Subagyo,  mengatakan pembahasan R...

Nasib Pedagang Pasar Kampunglalang Semakin Tidak Jelas

MEDAN (Waspada): Nasib pedagang Pasar Kampunglalang semakin tidak jelas. Rapat Dengar Pendapat (RDP)...

FPI Sumut Buka Rumah Singgah Ramadhan

MEDAN (Waspada): Front Pembela Islam (FPI) Sumut membuka Rumah Singgah Ramadhan, di Jl. Brigjend Kat...

Perwira Polisi Dikejar Jukir Liar Pakai Parang

MEDAN (Waspada): Perwira Kepolisian Iptu Boni M Situmorang anggota Polres Pelabuhan Belawan dikejar-...

Masyarakat Harus Aktif Cegah LGBT

MEDAN (Waspada): Kepedulian masyarakat di lingkungan sangat penting, guna mencegah terjadinya prilak...

Jual Beli Stand Masih Warnai Pelaksanaan Ramadhan Fair

MEDAN (Waspada): Jual beli stand Ramadhan Fair masih mewarnai pelaksanan  tahunan Pemko Medan. Harga...

Mimbar Jumat

Kasus Suap Di BPK...

MEDAN (Waspada):  Ketua Lembaga Ban...

Pembahasan RUU Te...

MEDAN (Waspada): Wakil Ketua Badan ...

Nasib Pedagang Pa...

MEDAN (Waspada): Nasib pedagang Pas...

FPI Sumut Buka Ru...

MEDAN (Waspada): Front Pembela Isla...

Lentera

Kasus Suap Di BPK...

MEDAN (Waspada):  Ketua Lembaga Ban...

Pembahasan RUU Te...

MEDAN (Waspada): Wakil Ketua Badan ...

Nasib Pedagang Pa...

MEDAN (Waspada): Nasib pedagang Pas...

FPI Sumut Buka Ru...

MEDAN (Waspada): Front Pembela Isla...

Lentera Ramadhan

Kasus Suap Di BPK...

MEDAN (Waspada):  Ketua Lembaga Ban...

Pembahasan RUU Te...

MEDAN (Waspada): Wakil Ketua Badan ...

Nasib Pedagang Pa...

MEDAN (Waspada): Nasib pedagang Pas...

FPI Sumut Buka Ru...

MEDAN (Waspada): Front Pembela Isla...

Banner
Masyarakat Belum Nikmati Hasil Kekayaan Perkebunan
Articles | Medan
Written by Syafri Harahap on Friday, 19 May 2017 06:40   
Share

MEDAN (Waspada): Memperingati Hari Buku Nasional, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) menggelar kegiatan Bedah buku karya H. Mohammad Said, yang berjudul Suatu Zaman Gelap di Deli ‘Koeli Kontrak Tempo Doeleo’ Dengan Derita dan Kemarahannya, Rabu (17/5). Masyarakat sampai saat ini masih belum menikmati hasil dari kekayaan perkebunannya.

Dedi Sahputra, yang mewakili Harian Waspada, sebagai narasumber pada kegiatan bedah buku tersebut mengatakan, area perkebunan Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara sekitarnya), merupakan daerah yang paling dikenal sampai ke penjuru dunia karena hasil perkebunannya.

Katanya, hasil perkebunan tersebut memiliki kualitas yang baik, dengan nilai jual yang tinggi, dan  sangat laku di pasaran Internasional. “Seperti Tembakau Deli, Karet, Sawit, Gula dan berbagai tanaman lainnya yang menghasilkan produkproduk unggulan dunia,” katanya.

Dedi, mengatakan di balik cerita manis kekayaan hasil perkebunan tersebut, H. Mohammad Said, mencoba mengungkapkan kisah tragis para kulikuli kebun yang bekerja dengan paksaan dan tekanan yang luar biasa dari para tuan kebun.

Katanya, tidak sedikitpun kekayaan hasil perkebunan itu dirasakan oleh para kuli. Padahal kekayaan hasil perkebunan tersebut berasal dari darah, keringat dan tetesan air mata para kulikuli kebun. “Tidak ada bedanya sama kuli, sampai sekarang kekayaan hasil perkebunan kita tidak pernah kita rasakan. Semua hasil kekayaan tersebut dibawa ke Jakarta (pusat),” katanya.

Narasumber lainnya Antropolog UINSU Sakti Ritonga,  menjelaskan tentang masuknya gelombang tenaga kerja asing di Sumatera Timur pada saat pembukaan perkebunan secara besarbesaran. Gelombang tenaga kerja asing yang masuk dari China, India dan Jawa, turut menjadi bagian dalam sejarah lokal di Sumatera Timur. “Kesemuanya itu kemudian memiliki perannya masingmasing di dalam perkebunan, dan tentu ada terjadi konflik konflik antar kuli di dalam kebun,” katanya.

Pandangan berbeda di katakana Sejarawan dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari. Menurtnya, sesungguhnya wilayah Sumatera Timur akan kaya raya dan rakyatnya sejahterah, andai saja para Sultan sultan Deli tidak berubah profesi.

Katanya, Sultan Deli yang tadinya sebagai penguasa, kemudian setelah masuknya Belanda berubah profesi sebagai agen tanah, yang menyewakan tanahtanah kepada para tuan kebun. “ Inilah yang kemudian menjadi penyebab titik awalnya terjadi penderitaan di Sumatera Timur,” katanya.

Ichwan, mengatakan sejak itu para sultansultan tersebut lebih senang menikmati hidup di istana, menerima upeti dan bersenangsenang dari subsidi hasil perkebunan para tuantuan kebun. “Namun akibat itu, masyarakat kemudian kehilangan haknya untuk bertanam, demi hidup di tanahnya sendiri.

Kegiatan bedah buku tersebut dimoderatori oleh Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Akmal Tarigan,  dan diakhiri dengan sesi tanya jawab dengan para mahasiswa UINSU, serta pembagian buku secara gratis oleh penyelenggara diskusi bedah buku. (crds/C)



Tags: perkebunan  
 

Internasional

Rekomendasi DPRD: Tunda K...

MEDAN (Waspada): Komisi C DPRD Sumut mengeluarkan rek...

Kasus Suap Di BPK Harus D...

MEDAN (Waspada):  Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) M...

Pembahasan RUU Terhambat K...

MEDAN (Waspada): Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) ...

Nasib Pedagang Pasar Kamp...

MEDAN (Waspada): Nasib pedagang Pasar Kampunglalang s...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada